KESATU.CO – BANDUNG, Sebagai korporasi perbankan berbalut Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tentunya, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk (Persero) senantiasa ingin melayani masyarakat, khususnya, seluruh nasabahnya secara prima, terutama pada momen-momen spesial, seperti Natal-Tahun Baru (Nataru).
Begitu pula dengan momen Nataru 2024-2025, perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) ini berkomitmen kuat untuk memuaskan seluruh nasabahnya.
Satu bentuk komitmen itu yakni pengalokasian dana tunai demi tercukupinya kebutuhan masyarakat pada periode Nataru tahun ini.
Kepada media, pada Launching Fitur Cardless Withdrawal antara jajarannya dan PT Artajasa Pembayaran Elektronis, Andrijanto, Direktur Retail Funding & Distribution PT BRI Tbk (Persero), mengiyakan bahwa pada Nataru 2024-2025, pihaknya mengalokasikan dana tunai bernilai masif.
“Nominalnya puluhan triliun rupiah, tepatnya, sekitar Rp24,6 triliun,” tandas Andrijanto.
Dana tunai itu lanjut dia, pihaknya siapkan agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya selama periode Nataru 2024-2025, yaitu 25 Desember 2024-1 Januari 2025.
Baca Juga: Mau Bepergian Saat Nataru? Kursi Penumpang Masih Tersedia, Ada 54 Ribu Lembar Tiket Kereta Tambahan
Secara rata-rata, ungkap dia, persentase penyerapan alokasi dana tunai pada momen-momen tertentu sekitar 70-80 persen.
Mayoritas pengalokasian, kata dia, yakni 63 persen atau Rp15,6 triliun pendistribusiannya pada ATM dan CRM.
Sebanyak Rp9 triliun sisanya, imbuh Andrijanto, pendistribusiannya pada seluruh jaringan kantor, termasuk Kas Keliling di daerah-daerah terpencil yang sulit terjangkau.
Nyoman Sugiriyasa, Senior Executive Vice President Operation PT BRI Tbk (Persero), menyampaikan, pengalokasian dana tunai pada Nataru tahun ini tersebut berdasarkan analisis dan tren transaksi masyarakat.
Dia menilai tren transaksi oleh masyarakat cenderung pada pola pelayanan berbasis digital.
Indikatornya, ujar dia, transaksi penarikan dana tunai melalui Anjung Tunai Mandiri (ATM) dan Cash Recycling Machine (CRM) selama 2024 yang berkurang 10 persen secara tahunan.
Berbeda dengan transaksi berbasis digital yang menunjukkan tren bergeliat. “Transaksi yang menggunakan Super Apps BRImo contohnya, secara tahunan, berkembang 39,8 persen,” ujar Nyoman Sugiriyasa,.
Dia meneruskan, transaksi masyarakat yang menggunakan pola Quick Response Indonesia Standard (QRIS) Code BRI, juga menggeliat, bahwa sangat signifikan, yakni 176 persen secara tahunan.
Sedangkan transaksi yang menggunakan Electronic Data Capture (EDC) merchant PT BRI Tbk (Peraero), sahutnya, bergairah 97,3 persen secara tahunan. (win/*)
