KESATU.CO – BANDUNG, Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi beragam dinamika perekonomian. Di antaranya, trade war antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Tentu saja, dinamika-dinamika itu bisa berdampak pada berbagai sektor perekonomian Indonesia. Termasuk perbankan.
Namun, faktanya, korporasi perbankan berlabel Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) kebanggaan publik Tatar Pasundan, PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk (Perseroda) alias bank bjb, tetap menunjukkan keperkasaannya.
Buktinya, hingga tiga bulan awal 2025, performa dan kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD) terakbar di tanah air ini masih solid. Satu di antaranya yakni berkenaan dengan perolehan laba.
Ayi Subarna, Pemimpin Divisi Corporate Secretary bank bjb, menyampaikan, pada Maret 2025, pihaknya membukukan laba sebelum pajak bernilai Rp606 miliar.
Tidak hanya laba yang masif, kata Ayi Subarna, pada hingga periode sama tahun ini, pihaknya juga berhasil menambah pundi-pundi kekayaannya.
Patokannya, tutur Ayi Subarna, yaitu bertambahnya nilai aset perbankan yang berkantor pusat di Jalan Naripan Bandung tersebut.
Ayi Subarna, mengatakan, hingga Maret 2025, pihaknya memiliki aset bernilai Rp223,1 triliun, lebih banyak 10,2 persen daripada pencapaian Maret 2024.
Beberapa faktor, jelas Ayi Subarna, berperan besar pada bersinarnya kinerja perbankan Merah Putih itu. Antara lain, ujarnya, program Kelompok Usaha Bank (KUB).
Ayo Subarna menyatakan, berkat KUB, anak perusahaan bank bjb berkontribusi 17,4 persen pada total aset. Persentase itu, terangnya, setara Rp38,8 triliun.
Bukti kinerja positif lainnya, lanjut dia, tercermin pada penyaluran kredit atau pembiayaan. Hingga Maret 2025, kata Ayi Subarna, kredit yang pihaknya salurkan bertambah 11,4 persen secara tahunan atau menjadi Rp145,4 triliun.
Penyaluran kredit bernominal Rp27,1 triliun di antaranya, tambah pria berpostur tubuh jangkung ini, merupakan kontribusi anak perusahaan.
Baca Juga: Pengusaha UMKM Ini Sukses Kembangkan Usaha, Naik Kelas Berkat LinkUMKM BRI
Kredit konsumer, tuturnya, merupakan segmen yang menjadi back bone penyaluran kredit. Itu terjadi berkat adanya ekspansi kredit bagi kalangan pegawai pemerintah berbasis Perjanjian Kerja (PPPK).
“Perkembangannya hingga Maret 2025, kata dia, yakni 4,7 persen secara tahunan,” tandas Ayi Subarna.
Bersinarnya kinerja hingga triwulan perdana 2025 tersebut, ungkap dia, juga berkaitan dengan penerapan dan implementasi beragam inovasi utamanya, teknologi digital.
Misalnya, sebut dia, inovasi KGB Pisan, yang mengalami berheliat eksponensial. Positifnya perkembangan KGB Pisan, terlihat pada Number of Account (NoA). Kini, sebut dia, jumlahnya 3.987 NoA.
Hebatnya, klaim Ayi Subarna, outstanding pembiayaan (kredit) KGB Pisan, yang aktivasinya belum genap satu tahun, juga menunjukkan tren positif. Nominalnya, yakni Rp62,9 miliar.
Begitu pula dengan pembiayaan berkelanjutan alias green financing. Ayi Subarna menginformasikan, hingga Maret 2025, nilai penyaluran kredit berkelanjutan bertambah 7,2 persen secara tahunan atau menjadi Rp17,7 triliun. Nominal itu, kata Ayi Subarna, berkontribusi 15 persen total kredit.
Masih berkenaan dengan program keberlanjutan, Ayi Subarna mengabarkan, pihaknya pun menerbitkan Sustainable Bond Tahap I , yang nominalnya Rp1 triliun.
Agar kinerja Green Financing lebih gacor, Ayi Subarna mencetuskan bahwa tahun ini, pihaknya punya rencana hebat lainnya, yakni menerbitkan Sustainable Honda Tahap II.
Soal perkembangan mobile banking melalui aplikasi DIGI by bank bjb, Ayi Subarna menuturkan, nilai transaksi DIGI by bank bjb, yang dimanfaatkan 2,3 juta users, yaitu Rp89,7 triliun.
Selain itu, tambahnya, pergerakan positif juga terjadi pada pemanfaatan Quick Response Indonesia Standard (QRIS) bank bjb.
Saat ini, sebutnya, ada sekitar 1,3 juta merchant yang memanfaatkan pola transaksional cashlesss menggunakan QRIS bank bjb.
Yang juga turut menggeliat, ungkap Ayi Subarna, adalah bertambahnya Agen Laku Pandai Bisa. “Saat ini, jumlah Agen Laku Pandai Bisa sebanyak 27.404 agen,” imbuh dia.
Berbicara tentang perkembangan pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK), Ayi Subarna membeberkan, secara konsolidasi, ungkap Ayi Subarna, hingga Maret 2025, pihaknya mengelola DPK juga bernilai jumbo.
“Total nominalnya Rp153.8 trilliun,” pungkas Ayi Subarna. (win)
