KESATU.CO – Menurut data BNSP dan Kementerian Ketenagakerjaan, Indonesia masih kekurangan asesor kompetensi aktif untuk mengejar target sertifikasi 10 juta tenaga kerja bersertifikat pada tahun 2025.
Saat ini, jumlah asesor aktif diperkirakan kurang dari 30.000 orang, sedangkan kebutuhan nasional idealnya mencapai minimal 100.000 asesor di seluruh sektor strategis.
Hal ini menjadi tantangan besar dalam memastikan pemerataan kualitas SDM. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan jumlah pelatihan asesor, revitalisasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), serta insentif bagi profesional yang bersedia menjadi asesor di bidang-bidang kritis.
Berkenaan dengan peningkatan kompetensi SDM, APJI DPD Jabar bersama LSP mengadakan pelatihan asesor untuk peserta peserta beragam dari Jabar.
Keinginan APJI agar bisa lahir banyak SDM yang kompeten bisa terealisasi salah satunya dengan menghadirkan pelatihan berbasis BNSP khusus asesor di Hotel Mitra.
Tri menerangkan bahwasanya menjadi asesor itu harus rajin membaca, terbiasa berbicara di depan public, literasinya harus kuat begitu juga dengan kemampuan berhitungnya.
Ketika ditanyakan usia ideal bagi seseorang menjadi asesor, Master Asesor BNSP ini pun mengutarakan bahwa faktor usia bukanlah faktor penentu seseorang bisa menjadi asesor yang baik, tetapi faktor kompetensi yang utama. Dan dirinya pun mengutarakan bahwa kebutuhan sumber daya manusia di Indonesia akan asesor ini besar sekali.
Apalagi program pemerintah menuju Indonesia Emas, ini berarti kompetensi sumber daya manusia di Indonesia itu perlu banyak ditingkatkan.
Apa yang menjadi asesor ideal berhubungan dengan sumber daya berkompetensi sepertinya bisa dipenuhi oleh salah satu peserta calon asesor yang diselenggarakan oleh APJI DPD Jabar ini.
Baca Juga: Strategi Simpan Bitcoin: Ala Negara Vs Korporasi
Dr. Ira Nadya Octavira, M.Pd., pemilik bisnis usaha kuliner di Sukabumi mengutarakan bahwa motivasinya mengikuti sertifikasi asesor BNSP ini adalah penambahan ilmu, wawasan, portofolio, apalagi secara akademik dirinya telah selesai di level-9,S-3 dan menyabet gelar doktor. Dan yang sekarang menjadi focus penambahan keilmuannya sekarang adalah di aspek kompetensi dimana pencapaian salah satunya adalah kompetensi asesor BNSP.
“Kebetulan penyelenggaraan asesor BNSP ini oleh APJI dan LSP dari JBN (Jasa Boga Nusantara) dengan BNSP. Dan saya sendiri backgroundnya selain berkecimpung di dunia Pendidikan, saya juga adalah pelaku usaha kulinary,” ulas Nadya.
“Saya membutuhkan sertifikasi asesor karena beberapa sertifikasi jasa boga lainnya seperti penjamah makanan sudah saya miliki sehingga sekarang levelnya sekarang naik guna saya bisa melakukan penilaian atau assessment ke depan nantinya,” jelas Nadya yang juga pernah menjadi finalis Masterchef Indonesia S6 ini.
Nadya menerangkan bahwa asesor ini nantinya adalah orang yang akan merekomendasikan asesi apakah dia kompeten atau tidak. Ia menjelaskan bahwa sebagai asesor, dirinya adalah “perpanjangan tangan” negara. Karenanya, seorang asesor memiliki tanggung jawab untuk bisa memastikan mereka yang diases itu memang nantinya memiliki kemampuan sesuai standar.
“Untuk menjadi seorang asesor ini, bagaimana kita bisa melatih personal judgement kita, dengan memahami dan menjalankan prinsip, to compare, to correct dan to recommend. Ketiga itulah tugas dari seorang asesor. Kita lihat dulu buktinya apa, mereka punya dasar kompetensi apa terus kita sandingkan dengan standar yang ada, Ketika sudah sama, maka kita rekomendasikan mereka. Nah, proses ketiga tahap itulah yang membutuhkan pemikiran ekstra, tidak hanya secara fisik, mental juga pikiran,” tukas Nadya.
