KESATU.CO.
Tiga tahun perjalanan karier bisa jadi waktu yang singkat, namun bagi Arin, alumnus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang kini berkarya sebagai Brand Activation Supervisor Divisi Marketing and Communication lembaga filantropi IBS Foundation, pengalaman itu adalah batu pijakan penting untuk membuktikan bahwa ilmu dan pengabdian dapat berjalan seiring.
Berangkat dari dasar akademik ilmu komunikasi, Arin memiliki bekal yang kuat untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan, mulai dari awak media, rekan seprofesi, influencer, komunitas, hingga masyarakat luas yang menjadi target utama dari pesan-pesan kemanusiaan yang ia suarakan.
Arin memahami betul bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kedekatan emosional, menumbuhkan kesadaran, serta memantik aksi nyata.
Pengalaman kuliah memberinya kerangka berpikir akademis, namun dunia kerja mengajarkannya bahwa teori tidak selalu sejalan dengan realitas lapangan. Justru di sanalah Arin menemukan ruang untuk berkreasi, memadukan teori dengan insting praktis agar pesan yang dibawa lebih mengena dan mudah dipahami.
Kemampuan ini pula yang menjadikannya mampu bergerak cepat bersama awak media dalam menyampaikan isu-isu penting agar lekas sampai ke publik.
Dalam tiga tahun terakhir, kiprah Arin makin terlihat jelas. Ia telah menjalin kerja sama dengan berbagai media, baik nasional, mainstream, maupun lokal dan regional. Setiap langkah komunikasi yang ia jalankan menjadi bagian penting dari strategi IBS Foundation dalam menyuarakan isu-isu sosial kemanusiaan.
Salah satu yang paling menonjol adalah ketika IBS Foundation terlibat aktif dalam gerakan solidaritas Free Palestina. Arin tidak hanya memastikan kegiatan itu terdokumentasi dengan baik, tetapi juga memastikan pesan penolakan terhadap genosida Israel tersampaikan secara lantang dan menyentuh hati publik. Di tangan Arin, dokumentasi bukan sekadar catatan, melainkan bagian dari perjuangan.
Ia menyadari bahwa setiap gerakan besar membutuhkan tim yang solid. Saat ini, Arin bergerak bersama enam rekan lainnya di Divisi Marketing and Communication, terdiri dari empat staf internal IBS Foundation dan dua tenaga lepas.
Baca Juga: Pemkot Bandung dan IATL ITB Uji Skema Baru Kurangi Sampah Makanan
Meski jumlahnya relatif kecil, ia bersyukur mendapat rekan-rekan yang bisa saling menopang kinerja. Dalam setiap proyek komunikasi, kebersamaan menjadi kunci agar hasil kerja tidak hanya efektif tetapi juga berdaya guna. Arin percaya bahwa komunikasi yang baik hanya bisa lahir dari kerja tim yang kuat.
Lebih dari sekadar profesi, kiprah Arin di IBS Foundation merupakan bentuk dedikasi. Ia menganggap pekerjaannya bukan hanya sebagai tanggung jawab profesional, tetapi juga sebagai bentuk ibadah. Setiap kampanye, setiap publikasi, dan setiap pesan yang ia sampaikan selalu diarahkan untuk mendukung gerakan kebaikan.
Melalui IBS Foundation, ia ingin menghadirkan wadah yang tidak hanya menjadi saluran sedekah materi, tetapi juga ruang kontribusi sosial, seperti program penyaluran Al-Qur’an hingga kegiatan yang menyasar kebutuhan masyarakat kecil, salah satunya di wilayah Kabupaten Bandung Barat.
Visi Arin cukup besar. Ia ingin IBS Foundation terus berkembang, tidak hanya dikenal di tingkat lokal atau nasional, tetapi juga menembus kancah Asia. Harapannya, IBS bisa menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin berbagi, menyalurkan kepedulian, dan mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan.
Baginya, Indonesia, bahkan dunia, membutuhkan lebih banyak ruang dan lembaga yang bisa menjembatani niat baik menjadi aksi nyata.
Perjalanan Arin mengajarkan bahwa komunikasi adalah jantung dari gerakan sosial. Tanpa komunikasi yang jelas, tepat, dan menggugah, niat baik sering terjebak hanya menjadi wacana.
Di tangan orang-orang seperti Arin, komunikasi menjadi jembatan yang mempertemukan pesan dengan aksi, niat dengan kenyataan, dan individu dengan komunitas. Itulah yang membuat kiprahnya penting, tidak hanya bagi IBS Foundation, tetapi juga bagi ekosistem sosial kemanusiaan yang lebih luas.
“Dalam suasana dunia yang penuh ketidakpastian dan sarat konflik, pengalaman saya di IBS Foundation membawa harapan. Bahwa di tengah hiruk-pikuk berita dan informasi, masih ada ruang untuk menyuarakan kebaikan, memperjuangkan kemanusiaan, dan menggerakkan solidaritas,” ulas Arin, Rabu (27/08/2025).
“Dan di balik semua itu, ada sosok-sosok pekerja komunikasi yang diam-diam menjadi motor penggerak perubahan, memastikan setiap pesan tersampaikan, setiap suara didengar, dan setiap aksi nyata tercatat sebagai bagian dari sejarah perjuangan,” pungkas Arin.
