KESATU.CO – Hari ini, hidup seakan kehilangan tempo. Notifikasi berdatangan, konten baru muncul tiap detik, isu trending berganti tanpa henti. Siang dan malam tak lagi terasa berbeda. Kita tidak sedang mengatur waktu, justru waktulah—yang digerakkan algoritma—yang mengatur hidup kita.
Manuel Castells menyebut kondisi ini sebagai timeless time: waktu yang tak lagi berputar secara wajar, melainkan terus berjalan tanpa henti. Generasi muda lahir di tengah realitas ini. Mereka tumbuh dalam dunia yang selalu aktif, serba cepat, dan penuh tekanan untuk mengikuti ritme digital yang dipaksakan.
Algoritma sebagai “Jam Baru”
Dulu, jam weker dan kalender jadi penanda ritme hidup. Sekarang, gawai dengan notifikasi dan trending topic yang menentukan kapan kita bangun, kapan ikut belajar daring, kapan ikut marah karena isu politik.
Algoritma menjadi semacam “jam baru” yang tidak terlihat tetapi sangat dominan. Ia mengatur pola tidur, jenis hiburan, bahkan emosi yang kita ekspresikan. Kekuasaan algoritma bekerja diam-diam, membuat manusia seolah bebas memilih, padahal sesungguhnya sedang diarahkan.
Generasi yang Terjebak Instan :
Di bawah kendali algoritma, budaya instan makin kuat:
• Belajar singkat. Video edukasi kilat dianggap cukup untuk memahami hal yang kompleks.
• Hiburan cepat. Video pendek lebih digemari dibanding bacaan panjang.
• Karier instan. Harapan menjadi terkenal sering digantungkan pada keberuntungan sekali viral.
Baca Juga: DERETAN MEREK DAN KENDARAAN TERBARU HADIR DI GIIAS BANDUNG 2025
Segala sesuatu terasa mungkin, tetapi daya tahan menghadapi proses panjang melemah. Popularitas datang dan pergi dengan cepat, membuat anak muda sering kehilangan kesabaran untuk bertumbuh secara konsisten.
Mental yang Mudah Rapuh :
Kondisi ini menekan sisi psikologis generasi muda:
• FOMO. Rasa takut tertinggal tren membuat cemas berlebihan.
• Perbandingan sosial. Melihat pencapaian orang lain di media sosial memicu rasa tidak cukup.
• Sulit fokus. Terbiasa konten singkat membuat konsentrasi cepat buyar.
• Lelah digital. Meski capek, sulit menghentikan diri dari layar.
Teknologi yang dijanjikan membawa kebebasan justru melahirkan jerat baru: penjara atensi.
Politik yang Tak Lepas dari Algoritma :
Politik juga tak kebal dari logika ini. Pemilu kini tak hanya berlangsung di panggung debat, tapi juga di layar ponsel. Kandidat sibuk merespons isu dengan cepat di TikTok atau Instagram.
Potongan video lebih membentuk opini ketimbang visi-misi yang panjang. Hoaks menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya. Mesin buzzer bekerja dengan logika percepatan: yang penting trending, bukan mendidik publik.
Demokrasi yang semestinya memberi ruang musyawarah, justru berubah menjadi lomba kecepatan narasi.
Ilusi Kebebasan :
Kita sering merasa media sosial memberi kebebasan: siapa pun bisa bersuara. Faktanya, ruang itu dikendalikan algoritma yang menyortir mana yang muncul dan mana yang tenggelam.
Paradoks pun lahir. Kita percaya memilih dengan bebas, padahal arah sudah ditentukan platform. Demokrasi yang dijanjikan dunia digital justru tergelincir menjadi politik kecepatan, di mana “siapa cepat, dia berkuasa.”
Menemukan Jeda di Tengah Derasnya Arus :
Tentu kita tak mungkin keluar sepenuhnya dari dunia digital. Tantangannya adalah bagaimana mengendalikan laju, bukan melarikan diri. Beberapa hal bisa jadi pijakan:
• Melek digital. Memahami cara kerja algoritma, agar tidak mudah terjebak.
• Puasa media sosial. Memberi ruang istirahat untuk pikiran dan emosi.
• Keseimbangan aktivitas. Menggabungkan produktivitas digital dengan kegiatan nyata.
• Komunitas sehat. Menyediakan ruang aman di luar logika algoritma.
Jangan Serahkan Hidup pada Algoritma :
Hari ini kita berhadapan dengan bentuk “penjajahan baru”: penjajahan algoritma. Ia tidak merebut tanah, tetapi merampas perhatian dan waktu.
Generasi muda Indonesia tak boleh pasrah. Mereka harus belajar mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya. Algoritma boleh mengatur arus informasi, tapi manusia tetap harus menentukan arah hidup.
Budaya instan mungkin dominan, tetapi masa depan tidak boleh instan. Yang kita butuhkan adalah generasi yang kuat, tahan menghadapi proses, dan berani keluar dari jebakan kerapuhan mental (Subchan Daragana/Pemerhati Sosial / Magister Komunikasi UBakrie).
