KESATU.CO – Perjalanan karier di dunia kuliner tidak selalu dimulai dari rencana besar. Hal itu dirasakan langsung oleh Jhon Lamusu, alumni LPT Panghegar yang kini dipercaya sebagai Kepala Dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikuya 3, Kabupaten Bandung. Di usia yang masih tergolong muda, Jhon membuktikan bahwa konsistensi belajar dan keberanian meng-upgrade diri bisa membuka peluang karier yang tidak terduga.
Jhon Lamusu menyampaikan bahwa posisinya saat ini sebagai kepala dapur merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Ia mengaku, perjalanan tersebut terbentuk dari kombinasi pendidikan, pengalaman kerja, serta kemauan untuk terus berkembang di bidang kuliner.
“Saya tidak pernah menyangka bisa berada di posisi ini. Tapi semua proses yang saya jalani, mulai dari pendidikan hingga pengalaman kerja di dapur, membawa saya sampai ke titik sekarang,” ujarnya, Minggu (19/04/2026)
Sebagai kepala dapur di SPPG, Jhon Lamusu tidak hanya bertanggung jawab pada operasional, tetapi juga membina tim yang terlibat dalam proses produksi makanan. Ia menilai, peran tersebut menuntut kemampuan yang tidak hanya teknis, tetapi juga manajerial.
Menurutnya, salah satu kunci utama untuk berkembang di industri kuliner adalah kesadaran untuk terus meningkatkan kompetensi. Ia menekankan bahwa dunia dapur profesional membutuhkan standar kerja yang tinggi, mulai dari pengelolaan bahan, proses memasak, hingga pelayanan.
“Yang paling mendasar adalah kita harus terus meng-upgrade skill. Bukan hanya soal memasak, tapi juga manajemen dapur dan cara kita bekerja secara profesional di bidang hospitality,” jelasnya.
Baca Juga: 71 Tahun KAA: Bandung Teguhkan Diplomasi Budaya dan Status Warisan Dunia
Dalam upaya memenuhi standar tersebut, Jhon Lamusu mengikuti pelatihan dan sertifikasi di LPT Panghegar yang bekerja sama dengan LSP Bhakti Persada. Ia memilih lembaga tersebut karena telah memiliki akreditasi yang jelas dan sistem pelatihan yang terstruktur.
Ia menyatakan bahwa sertifikasi bukan hanya sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan atas kompetensi yang dimiliki. Bahkan, dari hasil evaluasi tersebut, ia mendapatkan rekomendasi untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
“Saya mendapat rekomendasi untuk naik dari Demi Chef ke Executive Chef. Itu menjadi motivasi tersendiri karena berarti kompetensi yang saya miliki dinilai layak untuk berkembang,” katanya.
Bagi Jhon Lamusu, pencapaian tersebut bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia melihat sertifikasi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan, bukan sekadar target jangka pendek.
Ia juga mengajak generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, untuk tidak ragu menekuni bidang kuliner sebagai pilihan karier. Menurutnya, peluang di industri ini sangat terbuka, baik untuk bekerja maupun berwirausaha.
“Kalau ingin serius di dunia kuliner, penting untuk memilih lembaga pelatihan yang terakreditasi seperti LPT Panghegar ini. Dari situ kita bisa belajar lebih dalam dan punya bekal yang jelas untuk masuk ke dunia kerja,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan di dapur tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh disiplin dan kemauan untuk terus belajar. Ia percaya bahwa dengan kompetensi yang kuat, setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Jhon Lamusu berharap, semakin banyak anak muda yang menyadari pentingnya sertifikasi dan pendidikan formal di bidang kuliner. Menurutnya, langkah tersebut akan membantu meningkatkan kualitas tenaga kerja sekaligus mendorong profesionalisme di industri.
“Dengan skill yang terus diasah dan sertifikasi yang jelas, operasional dapur bisa berjalan lebih baik dan profesional. Itu yang perlu kita bangun bersama,” tutupnya.
