KESATU.CO – Industri Jasa Keuangan (IJK) di Provinsi Jawa Barat menunjukkan ketahanan yang solid hingga September 2025. Kantor OJK Provinsi Jawa Barat menilai stabilitas sektor keuangan tetap terjaga, ditopang pertumbuhan positif di berbagai subsektor dan fungsi intermediasi yang berjalan optimal. Evaluasi ini tertuang dalam laporan kinerja resmi OJK Jabar
Kepala OJK Jabar, Darwisman, menegaskan bahwa kinerja keuangan daerah masih berada dalam tren yang sehat. “Stabilitas sektor keuangan di Jawa Barat tetap terjaga dengan pertumbuhan positif pada sektor perbankan, UMKM, hingga pasar modal. Ini menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus pulih dan bergerak,” ujarnya.
Perbankan Bertumbuh, Intermediasi Tinggi
Perbankan Jabar mencatat pertumbuhan aset 2,22 persen (yoy), Dana Pihak Ketiga (DPK) 4,62 persen, dan penyaluran kredit 3,75 persen hingga September 2025. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 3,58 persen, masih dalam batas aman. Adapun Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 141,46 persen, menandakan tingginya porsi kredit yang disalurkan kepada masyarakat
Baca Juga: Data PHK Jawa Barat Tinggi? Disnakertrans Jabar Ungkap Kondisi Sebenarnya
Meskipun pertumbuhan kredit lebih rendah dibandingkan angka nasional (7,65 persen yoy), Jawa Barat tetap menjadi provinsi terbesar kedua nasional dari sisi penyaluran kredit, mencapai Rp1.032 triliun atau 12,38 persen pangsa nasional.
Darwisman menyebut penyaluran kredit ini perlu terus dipacu. “Kami mendorong perbankan lebih agresif di sektor-sektor produktif yang berisiko rendah. Akselerasi kredit menjadi kunci dalam memperkuat fondasi ekonomi Jawa Barat,” katanya.
Kredit UMKM Menjadi Motor Penting
UMKM masih menjadi segmen prioritas OJK. Per September 2025, penyaluran Kredit UMKM Jawa Barat mencapai Rp188,03 triliun atau 12,51 persen dari total nasional, menjadikan provinsi ini penerima kredit UMKM terbesar kedua se-Indonesia. Meski demikian, jumlah rekening UMKM menurun 8,69 persen secara tahunan
Kota Bandung menjadi daerah dengan penyaluran UMKM terbesar (Rp26,14 triliun), disusul Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, dan Kota Bekasi.
Untuk KUR, sebanyak 40.616 pelaku usaha di Jabar telah memanfaatkan fasilitas ini dengan total penyaluran Rp2,27 triliun. Skema mikro mendominasi 69 persen dari total outstanding.
Inklusi Pasar Modal Meningkat
Minat masyarakat Jabar dalam berinvestasi terus bertumbuh. Jumlah investor pasar modal, tercermin dari Single Investor Identification (SID), meningkat 18,39 persen hingga menyentuh 3,37 juta investor. Transaksi saham di wilayah ini pun naik 26,94 persen dengan nilai mencapai Rp31,19 triliun
Pembiayaan Non-Bank dan Fintech Tumbuh
Sektor pembiayaan mencatatkan perkembangan variatif. Perusahaan pembiayaan tumbuh 0,84 persen menjadi Rp80,46 triliun, sementara fintech lending mencatat pertumbuhan signifikan 19,78 persen dengan total pembiayaan Rp20,75 triliun dan TWP90 di level 3,41 persen
Sebagai upaya memperluas literasi, OJK Jabar telah menyelenggarakan 10.915 kegiatan edukasi keuangan di 27 kabupaten/kota, menjangkau lebih dari 2,18 juta peserta. Program-program unggulan seperti Bulan Inklusi Keuangan, Kampung Bersih Rentenir, edukasi pelajar, edukasi pekerja magang Jepang, hingga program OJK PEDULI terus diperluas
Darwisman menegaskan pentingnya literasi. “Akses tanpa literasi hanya akan menimbulkan risiko. Kami ingin masyarakat semakin cerdas dalam memilih produk keuangan agar terhindar dari praktik ilegal,” tegasnya.
Dorong Ekonomi Daerah Lewat Komoditas Susu Sapi Perah
OJK Jabar juga mengembangkan Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) dengan fokus pada komoditas susu sapi perah. Targetnya, produksi susu meningkat 23,75 persen dalam lima tahun. Saat ini, penyaluran kredit untuk peternak sapi perah telah mencapai Rp4,1 miliar kepada 90 debitur
