KESATUCO – DPRD Kabupaten Sukabumi kembali mendorong percepatan pembangunan jalur utara Cisolok–Cikakak–Palabuhanratu sebagai akses evakuasi utama menghadapi potensi bencana gempa dan tsunami di wilayah pesisir selatan.
Infrastruktur tersebut dinilai krusial untuk menjamin keselamatan masyarakat di kawasan rawan bencana.
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Sukabumi, Junajah Jajah Nurdiansyah, menegaskan bahwa Palabuhanratu dan sekitarnya berada di zona rawan gempa megathrust, sehingga membutuhkan jalur evakuasi alternatif yang aman, cepat, dan tidak bergantung pada satu akses utama.
Baca Juga: Krisis Personel Satpol PP Sukabumi, DPRD Ingatkan Ancaman Serius terhadap Ketertiban Umum
“Selama ini masyarakat hanya mengandalkan jalur selatan. Ketika terjadi longsor atau banjir saat kondisi darurat, akses bisa terputus. Jalur utara menjadi solusi penyelamatan,” ujar Junajah.
Menurutnya, jalur utara disiapkan secara khusus sebagai akses evakuasi darurat ketika terjadi gempa dan tsunami. Dengan adanya jalur alternatif, proses penyelamatan warga dapat dilakukan lebih efektif dan terhindar dari kepanikan massal.
Junajah menjelaskan, rencana pembangunan jalur tersebut sebenarnya telah masuk dalam perencanaan pemerintah daerah sejak beberapa tahun lalu. Bahkan, sempat disiapkan penganggaran sebelum akhirnya tertunda akibat pandemi COVID-19 dan keterbatasan fiskal daerah.
Baca Juga: Di Balik Arah Pembangunan Kota Sukabumi, PPEPD Bappeda Pastikan Perencanaan Tepat Sasaran
“Ini bukan program baru. Tinggal komitmen untuk melanjutkan kembali. Tahun 2026 harus menjadi momentum percepatan,” katanya.
Dari sisi teknis, jalur utara direncanakan memiliki lebar sekitar enam meter dan akan melintasi enam hingga tujuh desa di tiga kecamatan. Saat ini, kendala utama yang masih dihadapi adalah proses pembebasan lahan milik masyarakat.
“Perencanaannya sudah ada, trase juga sudah jelas. Tantangan terbesar sekarang adalah pembebasan lahan, dan ini perlu langkah tegas serta dukungan penuh pemerintah daerah,” jelas Junajah.
Baca Juga: Ketika Alam Tergerus, Alarm Dini Dari Pegunungan Bandung Harus Diwaspadai
Ia menilai, peringatan dini dari BNPB dan BMKG terkait potensi gempa besar di selatan Jawa harus dijadikan dasar penguatan mitigasi berbasis infrastruktur. Sosialisasi kebencanaan, kata dia, tidak akan cukup tanpa dukungan jalur evakuasi yang memadai.
“Kesiapsiagaan masyarakat harus diimbangi dengan kesiapan sarana. Tanpa jalur evakuasi, risiko korban akan tetap tinggi,” tegasnya.
Selain fungsi mitigasi bencana, jalur utara Cisolok–Palabuhanratu juga diyakini mampu memberikan dampak ekonomi jangka panjang.
Akses baru tersebut dinilai dapat memperlancar mobilitas warga, distribusi hasil pertanian dan perikanan, serta mendukung sektor pariwisata di wilayah selatan Sukabumi.
“Manfaatnya ganda, untuk keselamatan dan untuk pertumbuhan ekonomi. Ini investasi jangka panjang daerah,” ujarnya.
Junajah berharap pembangunan jalur strategis tersebut menjadi perhatian bersama lintas pemerintahan, baik pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Baca Juga: Pintu Air Hingga Bangunan di Atas Aliran Sungai Kelurahan Cikawao Segera Dibenahi
“Wilayah rawan bencana wajib memiliki jalur evakuasi yang layak. Ini soal keselamatan warga, dan itu harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.
