KESATU.CO – Ada nasihat lama yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak hilang, hanya menunggu untuk dipahami kembali dengan kedalaman yang berbeda. Dalam khazanah Sunda, ia hadir sebagai bisikan yang sederhana namun mengandung gema yang panjang: ulah kabobodo ténjo, kasamaran tinggal.
Sebuah peringatan yang jika direnungi, bukan sekadar ajakan untuk berhati-hati, melainkan laku batin untuk menjaga kejernihan diri di tengah dunia yang semakin lihai menampilkan yang semu seolah nyata.
Dahulu, nasihat itu mungkin terasa dekat dengan perkara yang kasatmata. Ia mengingatkan agar tidak mudah tertipu oleh rupa, oleh penampilan, oleh kesan pertama yang sering kali menipu.
Dalam konteks tertentu, ia bahkan menjadi imbauan agar tidak keliru dalam menilai sosok, termasuk dalam memilih pemimpin agar tidak terjebak pada yang tampak, tetapi luput dari yang hakiki.
Namun hari ini, makna “melihat” telah bergeser. Mata tidak lagi hanya berhadapan dengan individu, melainkan dengan narasi. Kita tidak sekadar menyaksikan peristiwa, tetapi menyaksikan bagaimana peristiwa itu diceritakan.
Realitas tidak lagi hadir dalam bentuknya yang utuh, melainkan datang setelah melalui proses pembingkaian, pemilihan, bahkan pengarahan. Pada akhirnya, kita tidak hanya menerima informasi, tetapi hidup di dalam arus cerita yang membentuk cara kita memahaminya.
Di sanalah letak ujian yang sesungguhnya. Bukan lagi pada apa yang kita lihat, tetapi pada apa yang kita percayai. Karena dalam dunia yang dipenuhi narasi, kepercayaan sering kali lahir bukan dari kebenaran, melainkan dari seberapa meyakinkan sesuatu disampaikan.
Teknologi, termasuk Artificial Intelligence, kerap dituding sebagai penyebab kaburnya batas antara yang nyata dan yang rekayasa. Namun barangkali ia bukan sumber utama, melainkan cermin yang memantulkan kecenderungan lama manusia yang mudah percaya pada apa yang tampak rapi, logis dan meyakinkan.
Teknologi hanya mempercepat, memperluas dan memperhalus proses itu, namun akarnya tetap berada dalam diri kita sendiri.
Dalam arus informasi yang begitu deras, kita sering mengira bahwa kekacauan ini hanya terjadi pada peristiwa-peristiwa besar. Padahal, ia justru tumbuh dalam keseharian yang paling dekat. Ia hadir dalam narasi kebijakan yang terasa sepihak namun dikemas seolah sebagai kepentingan bersama.
Ia muncul dalam klaim pembangunan yang tampak selesai, meski masih menyisakan banyak tanya. Ia juga hidup dalam wacana tentang kepastian hukum yang lebih sering terdengar sebagai pernyataan daripada kenyataan. Di sana, informasi tidak lagi sekadar disampaikan, tetapi diulang, ditegaskan dan dipoles dalam struktur narasi yang membuatnya perlahan menjelma seperti fakta.
Di titik itu, kita tidak lagi ditipu oleh kebohongan yang kasar, melainkan oleh kesalahan yang disusun begitu rapi hingga menyerupai kebenaran yang tampak begitu meyakinkan dan kita pun sering tidak merasa sedang disesatkan.
Ayat Al-Qur’an (QS. Al-Hujurat: 6). Menegaskan – Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
Baca Juga: Megawati Instruksikan PDI Perjuangan Jabar Galang Donasi Untuk Bandung Zoo
Di dalam ayat ini tersimpan perintah yang sering terlupakan bahwa tidak semua yang sampai kepada kita harus segera dipercaya, apalagi disebarkan. Ada jeda yang perlu dijaga, ada jarak yang perlu dihadirkan, agar hati tidak tergesa-gesa menetapkan sesuatu sebagai kebenaran.
Namun yang lebih halus dari itu adalah ketika kasamaran tidak lagi berada di luar, tetapi menetap dalam cara kita memahami. Ketika kabut tidak lagi menyelimuti dunia, melainkan menyelinap ke dalam cara berpikir kita. Saat itulah kita menjadi cepat bereaksi tapi lambat memahami. Kita merasa mengetahui banyak hal tetapi kehilangan kedalaman dalam memaknai.
Kelelahan oleh derasnya informasi membuat kita tanpa sadar memilih yang paling nyaman, bukan yang paling benar dan dalam kelelahan itulah, kabobodo ténjo menemukan bentuknya yang paling modern bukan sebagai kebodohan yang tampak, tetapi sebagai keyakinan yang terasa benar.
Maka kembali kepada nasihat lama bukanlah langkah mundur dari zaman. Ia justru menjadi cara untuk menemukan pijakan agar tidak kehilangan arah.
Ada disiplin batin yang perlu dihidupkan kembali bukan sebagai aturan yang mengikat, tetapi sebagai kesadaran yang menuntun, dengan menahan diri sebelum menyimpulkan, menyaring sebelum menyebarkan dan meragukan sebelum meyakini.
Sebab kebenaran tidak pernah membutuhkan keramaian untuk membuktikan dirinya. Ia tidak bergantung pada seberapa sering diulang, atau seberapa banyak ia disetujui. Kebenaran cenderung tenang, konsisten dan tidak berubah hanya karena arah angin.
Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan sekadar mata yang melihat, tetapi nurani yang mampu membedakan. Karena tidak semua yang tampak meyakinkan layak harus dipercaya. (Robby Maulana Zulkarnaen)
