KESATU.CO – Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama yang dihadapi berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam sambutan tertulisnya, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, Darwisman, menyoroti dinamika global yang semakin kompleks sepanjang 2025 dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Darwisman, dunia saat ini tengah bergerak menuju tatanan multipolar, di mana dominasi negara-negara Barat mulai berkurang dan kekuatan ekonomi baru dari kawasan Timur, seperti China, semakin menguat. Perubahan ini menciptakan keseimbangan baru, namun dengan tingkat kerentanan yang tinggi.
“Kita melihat adanya pergeseran kekuatan global yang signifikan. Di satu sisi menciptakan keseimbangan, namun di sisi lain juga menghadirkan ketidakpastian yang cukup rapuh,” ujar Darwisman.
Ia menjelaskan, terdapat tiga kondisi utama yang menjadi pemicu ketidakpastian global. Pertama, konflik geopolitik yang masih berlangsung di berbagai kawasan, termasuk konflik Rusia serta ketegangan di Timur Tengah. Situasi ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga memicu ketegangan global yang lebih luas.
Kedua, meningkatnya perang dagang dan persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Persaingan ini ditandai dengan kebijakan tarif resiprokal hingga pembatasan teknologi strategis, termasuk di bidang kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut semakin memperumit rantai pasok global dan memengaruhi arus perdagangan internasional.
Ketiga, ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara besar. Darwisman menyoroti proyeksi pertumbuhan ekonomi China yang diperkirakan menurun menjadi 4,7 persen pada 2025. Penurunan ini dinilai berpotensi berdampak langsung terhadap negara mitra dagang, termasuk Indonesia.
“Jika aktivitas ekonomi China melambat, maka akan berdampak pada ekspor kita, investasi, hingga permintaan terhadap produk dalam negeri,” katanya.
Lebih lanjut, Darwisman mengungkapkan bahwa indeks ketidakpastian ekonomi global mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2025. Bahkan, pada triwulan kedua tahun tersebut, indeks tersebut mencapai level tertinggi sejak 1952. Lonjakan ini dipicu oleh kebijakan perdagangan global yang semakin tidak menentu.
Baca Juga: Revolusi Hunian Pekerja, Rusun Industri Bakal Hadir di Purwakarta
Dampaknya terasa nyata di pasar keuangan, yang ditandai dengan volatilitas tinggi pada berbagai instrumen, mulai dari saham, obligasi, hingga nilai tukar mata uang. Negara berkembang, termasuk Indonesia, dinilai lebih rentan terhadap gejolak tersebut dibandingkan negara maju.
“Fluktuasi nilai tukar yang cukup tajam menjadi salah satu indikator nyata. Ini dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama yang memiliki kebutuhan transaksi internasional,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Darwisman mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan penguatan fondasi ekonomi domestik. Ia menekankan bahwa stabilitas sektor keuangan harus terus dijaga melalui kebijakan yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Dengan sinergi yang kuat, Indonesia diharapkan mampu menjaga ketahanan ekonomi sekaligus memanfaatkan peluang di tengah ketidakpastian global.
“Di tengah dinamika yang tidak menentu, kita harus tetap optimistis, namun dengan langkah yang terukur dan penuh kehati-hatian,” kata Darwisman menutup sambutannya.
