KESATU.CO, PURWAKARTA – Rangkaian acara Hari Jadi Purwakarta tahun ini tidak hanya membawa kemeriahan bagi masyarakat, tetapi juga menyisakan kisah haru yang membekas di hati warga.
Di atas panggung Pagelaran Wayang Golek yang digelar di Kecamatan Bojong, sebuah keajaiban kecil terjadi. Penantian panjang seorang kakek tua yang mendambakan memiliki domba peliharaan akhirnya terwujud berkat aksi spontan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein.
Selama bertahun-tahun, asa sang kakek untuk memulai peternakan domba skala kecil selalu sirna. Hambatan terbesar selalu sama: keterbatasan modal. Impian sederhana itu seolah menjadi hal yang mustahil jika melihat realitas kehidupan sehari-hari yang harus ia jalani.
Gaji 10 Ribu Per Hari, Jauh dari Kata Cukup
Momen menyentuh itu bermula ketika Om Zein menyapa warga dari atas panggung dan berdialog langsung dengan sang kakek. Saat ditanya mengenai profesinya, kakek tersebut mengaku sehari-hari bekerja sebagai buruh petik teh di kebun milik orang lain.
Mendengar pengakuan tersebut, Om Zein langsung menghitung estimasi pendapatan sang kakek. Dengan upah harian yang hanya sebesar Rp10.000, jika diakumulasikan dalam sebulan, kakek ini hanya mengantongi pendapatan total sekitar Rp300.000.
“Jangankan untuk membeli domba, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja dirasa sangat kurang,” ujar Om Zein dengan nada prihatin.
Penghasilan tersebut jelas jauh dari kata cukup untuk mengabulkan hajat sang kakek yang ingin mengubah nasib lewat beternak.
Aksi Nyata Om Zein Tuai Apresiasi Warga Bojong
Mendengar keluhan dan kisah pilu sang kakek, Om Zein tidak tinggal diam. Di hadapan ribuan pasang mata yang memadati area pertunjukan Wayang Golek, Bupati Purwakarta tersebut langsung memberikan bantuan modal tunai agar sang kakek bisa segera membeli sepasang domba.
Sontak, tindakan responsif dan penuh empati dari Om Zein ini membuat warga Kecamatan Bojong yang hadir kala itu kagum. Gemuruh tepuk tangan dan apresiasi setinggi-tingginya langsung diberikan oleh warga kepada pemimpin mereka yang dinilai peka terhadap kesulitan rakyat kecil.
Bagi sang kakek, bantuan ini bukan sekadar materi, melainkan sebuah akhir dari penantian panjang dan awal baru untuk merajut asa yang sempat sirna.
Rangkaian Hari Jadi Purwakarta kali ini pun menjadi saksi bahwa kebahagiaan sejati hadir saat seorang pemimpin mampu mendengarkan dan hadir langsung menyelesaikan persoalan warganya.***
