KESATU.CO – BANDUNG, Di terciptanya stabilitas dan ketahanan pangan, termasuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya komoditas beras, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) punya misi yang ingin mereka realisasikan pada akhir 2024.
Misi apakah itu?
Kepada media dalam sebuah diskusi, Bayi Krisnamurthi Direktur Utama Perum Bulog, menyatakan, pihaknya berencana untuk melanjutkan program importasi beras hingga akhir 2024.
“Volume impornya (beras) sebanyak 1,2 juta ton,” cetus Bayu Krisnamurthi.
Tujuannya, dalih Bayu Krisnamurthi, mengantisipasi berkurangnya volume produksi beras dalam negeri demi terciptanya stabilitas stok dan harga beras.
Bayu Krisnamurthi mengimbuhkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi beras nasional pada 2023 berkurang 1,39 persen secara tahunan.
“Tahun lalu (2023), merunut data BPS, produksi beras nasional yakni 31,1 juta ton. Angka itu lebih sedikit daripada realisasi produksi beras 2022, yakni sebanyak 31,54 juta ton,” papar dia.
Baca Juga: Ratusan ASN di Sukabumi Ikuti Perlombaan Tradisional
Sedangkan selama empat bulan pertama 2024, produksi padi nasional juga berkurang 17,54 persen secara tahunan.
Bayu Krisnamurthi menegaskan, pemerintah mengizinkan jajarannya untuk mengimpor beras sebanyak 3,6 juta ton.
Sedangkan pada program importasi beras yang berlangsung hingga Juli 2024, sebut Bayu Krisnamurthi, volumenya sebanyak 2,4 juta ton.
“Artinya, berdasarkan izin pemerintah itu, kami masih punya kuota 1,2 jut ton untuk mengimpor beras. Jadi, kami berencana memaksimalkannya,” ujarnya.
Rencananya, beras impor itu, sahut Bayu Krisnamurthi, pihaknya alokasikan sebagai Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) harganya Rp12.500 per kilo gram
Soal stok, Bayu Krisnamurthi menegaskan, ketersediaan beras dalam kondisi mencukupi. Volumenya, ucap dia, sebanyak 1,5 juta ton. Stok beras itu termasuk hasil penyerapan produk petani sebanyak 900 ribu ton. (*)
