KESATU.CO – BANDUNG, Banyak cara dan stratehi yang disusun serta diterapkan setiap korporasi agar performanya tetap berkilau.
Hal itu pun dilakukan korporasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMN) sektor perbankan PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk (Perseroda) alias bank bjb.
Satu di antara strategi yang diterapkan dan diimplementasikan bank bjb yakni mengakselerasi terbentuknya ekosistem Bank Pembangunan Daerah (BPD) melalui skema Kelompok Usaha Bank (KUB).
Yuddy Renaldi, Direktur Utama bank bjb, dalam Earning Calls 2Q 2024 di Gedung bank bjb T-Tower, Jakarta, 30.Juli 2024, menyatakan, pembentukan KUB merupakan upaya strategis jajarannya agar performa dan kinerja terus bergeliat, sekaligus memperkuat daya saing, serta kian menyempurnakan pelayanan.
Yuddy Renaldi melanjutkan, upaya-upaya akselerasi iti menjadikan bank bjb tampil sebagai BPD pionir serta benchmark proses pembentukan KUB.
Lalu, apa efek positif lainnya bagi bank bjb apabila proses pembentukan KUB kelar 100 persen?
Yuddy Renaldi menjelaskan, seandainya proses pembentukan KUB tuntas 100 persen, efeknya luar biasa bagi bank bjb. Hal itu berpotensi menempatkan perbankan yang berkantor pusat di Jalan Naripan Bandung tersebut masuk daftar The Top Ten Perbankan Nasional.
Tidak itu saja, tuntasnya pembentukan KUB, tutur Yuddy Renaldi, membuat bank bib punya predikat baru, yakni BPD terakbar di tanah air.
Pasalnya, bergabungnya BPD-BPD dalam. Pola KUB memperkuat dan menambah nilai aset yang nominalnya super jumbo.
Baca Juga: Siap-siap, Empat Golongan Pelanggan PLN Ini Alami Perubahan, Simak Keteramgan Kementerian ESDM
Gabungan nilai aset empat BPD, yakni PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu alias Bank Bengkulu, PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara atau Bank Sultra, dan PT Bank Pembangunan Daerah Maluku Utara alias Bank Malut plus PT PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Syariah alias bank bjb syariah (bjbs) yaitu Rp 55,4 triliun
Yuddy Renaldi berpendapat, implementasi sinergi antar-BPD juga lebih mudah. Itu karena, jelas dia, pola kerja samanya tidak perlu menghilangkan ciri khas kedaerahan setiap BPD.
“KUB termasuk pola sinerg yang inovatif dan bagian transformasi. Pola itu (KUB) pun berfungsi untuk memperkuat daya saing BPD sehingga lebih pro aktif dan berkontribusi menggeliatkan perekonomian nasional,” papar Yuddy Renaldi. (*)
