KESATU.CO – BANDUNG, Seiring dengan bergulirnya agenda dekarbonisasi atau Net Zero Emission (NZE) yang ditargetkan pemerintah terealisasi pada 2060, banyak korporasi, termasuk berbendera Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang serius menggarapn The Green Energy. Satu di antaranya, PT Pertamina (Persero).
Dalam keterangannya, Edward Manaor Siahaan, Manager Corporate Social Responsibility (CSR) dan Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP) PT PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), mengemukakan, bersama Politeknik Negeri Cilacap (PNC), pihaknya menggarap energi listrik tenaga hibrida melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) 6.000 Watt Peak (WP).
Dalam kolaborasi itu, pengembangan PLTH tersebut dilengkapi dengan lima kincir angin dan 12 panel surya. Pemanfaatannya bagi warga Dusun Bondan Desa Ujungalang Cilacap, Jateng.
“Ini (pembangunan PLTH) menjadi upaya kami mendukung dan menyukseskan Program E-mas Bayu (Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin). Selain itu, juga untuk mempermudah masyarakat di daerah tersebut memperoleh dan menikmati energi listrik,” paparnya.
Baca Juga: Muhammadiyah Jawa Barat Siap Dukung Pemerintah Berantas Judi Online
Selain itu, lanjutnya, pengembangan PLTH tersebut juga membuktikan bahwa pihaknya serius menggarap The Green Energy berwawasan lingkungan demi tercapainya target NZE 2060.
Agar pemanfaatan PLTH optimal dan mengalami keberlanjutan, tuturnya, pihaknya membentuk dan kemudian melatih serta mendidik sebuah tim atau kelompok pengelola. Tim itu, jelas dia, tugasnya mengelola dan memelihara PLTH.
Edward Manaor Siahaan menyatakan, pemanfaatan The Newable & Renewable Energy alias Energi Baru- Terbarukan (EBT) itu mengurangi emosi yang cukup besar, yakni 7,51 ton karbondioksida (CO2) per tahun.
Energi listrik yang dihasilkan PLTH itu, sambungnya, sanggup melistriki 37 Kepala Keluarga (KK). Saya pasoknya, kata dia masing-masing 500 watt.
“Selain itu, juga melistriki beberapa fasilitas umum, seperti sekolah, masjid, plus dia rumah produksi,” kata Edward Manaor Siahaan,
Manfaat lainnya, sahut dia, beban biaya masyarakat pun menjadi lebih efisien. Sebelum PLTH itu aktif, sebutnya, Rata-rata, beban biaya energi listrik di daerah itu Rp75-100 ribu per KK.
Kini, imbuhnya, nominalnya menjadi sangat terjangkau. Yaitu, Rata-rata Rp25 ribu per KK. (*)
