KESATUCO – Perjuangan demokrasi tidak selalu hadir di panggung politik atau ruang kampanye. Bagi Ratna Istianah, perjuangan itu justru lahir dari kegelisahan akademik dan pengalaman langsung di lapangan dalam menjaga suara rakyat agar tetap utuh hingga akhir proses pemilu.
Perempuan asal Sukabumi tersebut menuntaskan studi doktoralnya di bidang Ilmu Politik di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dengan capaian IPK 4,00. Gelar doktor yang diraihnya dengan Promotor Prof. Armin, penguji eksternalnya Prof. Dr. Ma’mun Murod Al-Barbasyi menjadi simbol perjuangan panjang dalam memperkuat sistem demokrasi melalui gagasan traceability pemilu.
Namun tak hanya itu saja, dalam sidang terbuka perempuan pendiri Sukabumi Sukabuku ini, hadir pula tim Penilai (penguji internal), Prof. Muhammad, S.IP., M.Si mantan Ketua Bawaslu RI juga mantan Ketua DKPP.
Perjalanan Ratna berakar dari pengalamannya sebagai Komisioner KPU Kota Sukabumi selama lima tahun. Di posisi itu, ia melihat langsung bagaimana proses pemilu tidak berhenti pada pencoblosan, tetapi berlanjut pada tahapan rekapitulasi suara yang menentukan kepercayaan publik terhadap demokrasi.
Baca Juga: Jembatan Kamandoran Segera Dibangun
Menurutnya, banyak masyarakat yang datang ke TPS dengan harapan besar, tetapi tidak sepenuhnya memahami bagaimana suara mereka diproses hingga menjadi hasil akhir.
“Suara rakyat itu harus dijaga, bukan hanya dihitung. Prosesnya harus bisa ditelusuri agar kepercayaan publik tetap terjaga,” ujarnya.
Dari pengalaman tersebut, Ratna mengembangkan gagasan traceability atau keterlacakan pemilu dalam disertasinya yang mengkaji tata kelola pemilu legislatif 2024 di Jawa Barat. Ia menyoroti pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam proses rekapitulasi suara.
Baca Juga: Momen Rapat Paripurna, DPRD Empat Lawang Bahas Jawaban Eksekutif dan Bentuk Pansus
Baginya, transparansi saja belum cukup jika publik tidak memiliki kemampuan untuk menelusuri dan memverifikasi proses yang berjalan. Traceability menjadi konsep penting agar setiap tahapan pemilu dapat diuji secara terbuka.
“Demokrasi harus bisa dipertanggungjawabkan. Publik harus tahu dan bisa menelusuri bagaimana suara mereka bergerak dari TPS hingga penetapan hasil,” tegasnya.
Perjuangan Ratna tidak lepas dari pengorbanan. Ia harus meninggalkan Sukabumi untuk menempuh pendidikan di Makassar, melakukan penelitian di sejumlah daerah di Jawa Barat seperti Majalengka, Sumedang, dan Subang, serta menyelesaikan disertasi dengan disiplin tinggi.
Baca Juga: Pemkab Empat Lawang Resmi Setor LKPD 2025 ke BPK, Tergetkan Kejar Opini WTP
Di tengah perjalanan akademiknya, Ratna tetap mengabdi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Ia percaya bahwa perjuangan demokrasi tidak hanya dilakukan melalui penelitian, tetapi juga melalui pendidikan dan penyadaran masyarakat.
Menurutnya, masa depan demokrasi Indonesia sangat ditentukan oleh sistem yang mampu menjaga integritas suara rakyat secara menyeluruh.
“Demokrasi yang kuat adalah demokrasi yang dipercaya rakyat. Kepercayaan itu lahir dari proses yang transparan dan bisa ditelusuri,” katanya.
Perjalanan Ratna Istianah menjadi cerminan bahwa putri daerah mampu berkontribusi besar dalam memperkuat demokrasi Indonesia. Dari Sukabumi hingga Makassar, ia membawa satu pesan penting: menjaga suara rakyat adalah perjuangan yang harus terus dilakukan melalui ilmu, integritas, dan gagasan yang kuat.
