KESATU.CO – Upaya memperkuat ketahanan keluarga terus menjadi perhatian pemerintah, terutama di tengah meningkatnya tantangan perkembangan remaja yang kompleks. Dalam kegiatan sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) di Jawa Barat, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi, menegaskan pentingnya kehadiran ayah sebagai figur sentral dalam proses pengasuhan.
Menurutnya, keterlibatan ayah bukan lagi sekadar anjuran moral, melainkan kebutuhan strategis dalam membentuk generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter.
GATI tahun ini mengangkat tema Gerakan Ayah Mengambil Rapot Anak ke Sekolah (GEMAR), sebuah gerakan yang lahir dari tindak lanjut Surat Edaran Menteri Nomor 14 Tahun 2025. Regulasi tersebut mendorong kepala daerah di seluruh Indonesia untuk menerbitkan kebijakan serupa sebagai bentuk dukungan terhadap peran ayah dalam pengasuhan. “GEMAR bukan aktivitas simbolik. Ini pesan kuat bahwa ayah memiliki kontribusi langsung dalam tumbuh kembang anak, bukan hanya dalam pemenuhan ekonomi keluarga,” ujar Dadi dalam sosialisasi yang digelar pada Kamis, 11 Desember 2025.
Menurutnya, struktur keluarga modern menunjukkan perubahan signifikan. Peran ayah kini tidak berhenti pada pekerjaan mencari nafkah, tetapi juga meluas pada aktivitas harian seperti mengantar anak ke sekolah, mendampingi mengerjakan tugas, serta memantau kesehatan mental mereka. Dadi menegaskan bahwa kehadiran ayah di kehidupan anak memberikan stabilitas emosional sekaligus meningkatkan kualitas komunikasi keluarga.
Ia merujuk pada data UNICEF yang menyebutkan bahwa lebih dari 20 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, yakni kehilangan figur ayah meski tinggal serumah. Fenomena tersebut berdampak serius pada tumbuh kembang anak, termasuk menurunnya rasa percaya diri, meningkatnya stres, hingga rentan terhadap pengaruh lingkungan negatif. “Ketika ayah tidak hadir, anak mencari figur pengganti di luar rumah. Jika tidak terarah, ini menjadi pintu masuk pergaulan berisiko,” jelasnya.
BKKBN juga mencatat 33 persen remaja Indonesia menghadapi isu kesehatan mental, sementara situasi pengasuhan di tingkat keluarga semakin terfragmentasi. Data menunjukkan hanya 37 persen anak diasuh lengkap oleh kedua orang tua. Sisanya diasuh oleh salah satu orang tua atau kerabat lain, sebuah kenyataan yang memperkuat urgensi transformasi pola pengasuhan berbasis kolaborasi ayah dan ibu.
Melalui GATI dan GEMAR, BKKBN Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk membangun budaya pengasuhan yang lebih setara, komunikatif, dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak. “Kami ingin memastikan anak tumbuh optimal, dan hal itu hanya terwujud bila ayah dan ibu hadir dengan kepedulian yang konsisten,” tegas Dadi.
Dalam kesempatan tersebut, Dadi juga memberikan apresiasi kepada Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jabar serta komunitas ayah teladan di beberapa daerah yang aktif mengawal program Bangga Kencana. Dukungan mereka dinilai penting untuk memperluas pemahaman masyarakat bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama, dan kehadiran ayah merupakan fondasi penting bagi masa depan generasi muda.
