KESATU.CO – Suara warga Bandung kembali menggema di jantung kota. Sekitar dua ratus orang yang terdiri atas mahasiswa, aktivis lingkungan, tokoh adat Sunda, hingga masyarakat umum turun ke jalan, menyerukan satu hal: pemerintah kota harus membuka kembali Kebun Binatang Bandung.
Aksi damai itu dipimpin oleh Apipudin, yang menjadi koordinator gerakan solidaritas warga Bandung. Ia menegaskan bahwa penutupan berkepanjangan kebun binatang bukan hanya berdampak pada sektor wisata, tapi juga pada aspek sejarah, sosial, dan kesejahteraan satwa.
“Hari ini kami berkumpul di sini bukan untuk gaduh, tapi untuk menyampaikan aspirasi warga Bandung,” ujar Apipudin di sela aksi, Senin (13/10/2025).
Menurutnya, kebun binatang bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga situs sejarah yang melekat dalam ingatan warga kota. “Kebun binatang ini bagian dari warisan Bandung. Selain tempat hiburan keluarga, juga wadah edukasi bagi anak-anak tentang satwa dan alam,” ujarnya.
Lebih dari itu, Apipudin menyoroti persoalan kesejahteraan karyawan dan satwa yang ikut terdampak sejak penutupan dilakukan. Ia menilai pemerintah kota perlu bersikap adil dan mempertimbangkan dampak kemanusiaan dari kebijakan ini.
“Dua bulan terakhir, kesejahteraan pegawai dan pakan satwa sangat memprihatinkan. Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi rumah bagi ratusan hewan yang bergantung pada perawatan pengurus lama,” katanya menegaskan.
Apipudin menyebut, para pengurus lama memiliki izin resmi pengelolaan konservasi satwa dari pemerintah pusat. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan bagi pemerintah kota untuk menutup kebun binatang tanpa dasar hukum yang kuat. “Pemegang izin konservasi itu jelas, pengurus lama. Kalau dibiarkan tertutup terus, yang rugi bukan hanya mereka, tapi juga masyarakat dan satwanya,” ujarnya.
Dalam aksinya, para demonstran membawa spanduk bertuliskan pesan-pesan moral dan aspirasi lingkungan. Setelah orasi, mereka berencana menyerahkan surat resmi kepada Wali Kota Bandung.
“Kami sudah siapkan surat permintaan resmi untuk Pemkot Bandung agar bersikap adil dan mempertimbangkan sejarah Kebun Binatang Bandung yang dikelola oleh Yayasan Margasatwa Tamansari,” kata Apipudin. Ia menambahkan, warga berharap surat itu tidak hanya dibaca, tapi juga ditindaklanjuti dengan langkah nyata.
Baca Juga: Ketika Kebun Binatang Lupa Diri: Konservasi atau Sekadar Rekreasi?
Aksi kali ini, lanjutnya, merupakan gabungan dari berbagai elemen masyarakat. “Yang hadir di sini bukan cuma warga biasa, tapi juga mahasiswa, aktivis lingkungan, tokoh adat, bahkan budayawan Sunda. Semua datang karena merasa punya tanggung jawab moral terhadap warisan kota ini,” ungkapnya.
Ketika ditanya soal langkah selanjutnya bila pemerintah tak segera merespons, Apipudin memilih berhati-hati. “Kami sudah punya rencana lanjutan, tapi belum akan kami sampaikan sekarang. Yang jelas, kalau aspirasi ini tidak didengar, warga akan melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Lebih dari sekadar protes, aksi ini menjadi simbol keprihatinan warga terhadap menurunnya kepedulian pemerintah terhadap ruang konservasi di perkotaan. Di tengah gempuran pembangunan komersial, suara warga Bandung seakan mengingatkan bahwa kebun binatang bukan hanya tempat berlibur, melainkan bagian dari identitas ekologis dan sejarah kota itu sendiri.
“Ini bukan soal bisnis atau izin, ini soal warisan dan keseimbangan hidup antara manusia dan alam,” tutup Apipudin.
