KESATU.CO – Suasana haru menyelimuti kegiatan solidaritas yang digelar Lembaga Amil Zakat (LAZ) Indonesia Beramal Sholeh (IBS) di Bandung. Dalam acara itu, doa, air mata, dan semangat kemanusiaan berpadu menjadi satu. Bukan sekadar seremoni, tetapi panggilan nurani yang datang dari luka panjang di Gaza.
Direktur LAZ IBS, Faizal Hanafi, menuturkan bahwa selama dua tahun terakhir ia menjadi saksi langsung atas penderitaan rakyat Palestina. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana perang telah merenggut banyak nyawa dan menghancurkan kehidupan.
“Selama dua tahun ini, banyak anak-anak yang kehilangan kedua orang tuanya. Banyak orang tua yang kehilangan anak-anaknya. Banyak rumah hancur rata dengan tanah. Tapi demi Allah,” ujar Faizal tegas, “Israel tidak akan pernah bisa memadamkan semangat perjuangan rakyat Palestina. Tidak akan pernah.”
Faizal mengisahkan bagaimana seorang jurnalis lokal yang biasa meliput kondisi di Gaza kini turut menjadi korban. Namun, kata dia, tragedi itu justru menyalakan api perlawanan moral bagi umat manusia di seluruh dunia. “Selama dua tahun, dunia menyaksikan bagaimana kekejaman itu terjadi. Tapi kita juga menyaksikan bahwa para pejuang Palestina telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih besar — kemenangan martabat,” ujarnya.
Ia menilai, kemenangan pertama Palestina bukan dalam bentuk senjata, melainkan dalam keberanian bertahan. “Hari Jumat lalu menjadi saksi. Israel tidak lagi mampu menundukkan rakyat Palestina,” katanya. Sementara kemenangan kedua, lanjutnya, adalah kesadaran global yang kini tumbuh di mana-mana. “Seluruh mata dunia mulai terbuka. Negara-negara Eropa kini ikut bersuara. Itu kemenangan yang nyata,” ujar Faizal penuh keyakinan.
Suara serupa datang dari Syeikh Ahmad Almisry, ulama asal Timur Tengah yang turut hadir dalam acara tersebut. Ia menekankan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan hanya tanggung jawab bangsa Arab, tetapi seluruh umat Islam dan manusia berakal sehat di dunia. “Di mana pun saudara kita berada — di Indonesia atau di luar negeri — mereka mengalami kesulitan. Dan kita, sebagai umat yang beriman, tidak boleh berpaling,” ujarnya.
Baca Juga: Maybank Syariah Wujudkan Kepedulian Sosial Melalui 77 Filter Air Minum Bersama IBS Foundation
Syeikh Ahmad mengutip ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan solidaritas umat, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” Ia mengingatkan, kepedulian bukan sekadar empati emosional, tetapi aksi nyata yang menunjukkan iman sejati. “Orang beriman itu seperti satu tubuh. Bila satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan,” tuturnya.
Ia juga mengisahkan percakapan sederhana dengan seorang anak kecil yang bertanya mengapa ayahnya setiap hari menonton berita tentang Gaza. “Sang ayah menjawab, karena ini bukan sekadar perang, tetapi perjuangan kemanusiaan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun,” ucapnya.
Menurut Syeikh Ahmad, perjuangan rakyat Palestina adalah simbol bahwa kekuatan iman dan kesabaran bisa menandingi kehebatan teknologi dan senjata modern. “Mereka yang memiliki senjata canggih, uang, dan kekuasaan justru tidak mampu menaklukkan rakyat yang hanya bersenjatakan keyakinan,” ujarnya.
Bagi Indonesia Beramal Sholeh, kegiatan solidaritas seperti ini bukan hanya ekspresi empati, tetapi juga pengingat bahwa setiap aksi kecil bermakna besar. Donasi, doa, dan penyebaran kesadaran publik menjadi bentuk nyata perlawanan moral terhadap ketidakadilan.
“Semoga setiap langkah kita, setiap rupiah yang kita berikan, dicatat Allah sebagai bagian dari perjuangan kemanusiaan,” ucap Faizal menutup sambutannya. “Palestina mungkin jauh, tapi nurani kita dekat dengan mereka.”
Acara itu berakhir dengan doa bersama dan seruan agar masyarakat Indonesia terus memperkuat semangat kepedulian. Sebab, seperti yang disampaikan oleh kedua narasumber, kemenangan sesungguhnya bukan hanya di medan perang, tetapi di hati manusia yang menolak untuk diam di tengah penderitaan sesamanya.
