KESATU.CO – Masjid Agung Bandung kembali menyiapkan langkah besar dalam menghidupkan syiar Ramadan 2026. Setelah lebih dari satu dekade terhenti, Ramadan Festival akan digelar kembali sebagai program yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diarahkan menjadi model penguatan peran masjid bagi masyarakat perkotaan.
Agenda ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan aktivitas keagamaan dan sosial yang lebih terstruktur di jantung Kota Bandung.
Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, S.H., M.H.,MBA.,menegaskan bahwa penyelenggaraan Ramadan Festival tahun ini merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi yang sempat terhenti.
Ia menyebut kegiatan terakhir digelar sekitar 11 tahun lalu, sehingga pelaksanaan tahun ini dimaksudkan sebagai langkah awal untuk membangun kembali ekosistem kegiatan Ramadan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Ini menjadi kick off untuk menghidupkan kembali tradisi Ramadan yang lebih meriah dan partisipatif. Kegiatan ini bukan hanya untuk Masjid Agung Bandung, tetapi kami siapkan sebagai percontohan bagi masjid-masjid lain di Bandung Raya,” ujar Roedy dalam keterangan pers, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, penggunaan nama Ramadan Festival tanpa embel-embel Masjid Agung Bandung sengaja dipilih agar program tersebut memiliki jangkauan lebih luas dan dapat direplikasi oleh masjid lain.
Ia menilai, masjid di perkotaan perlu menjadi pusat kegiatan umat yang inklusif, sekaligus mampu mendorong aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Rangkaian kegiatan Ramadan Festival 2026 akan berlangsung sepanjang bulan Ramadan, dengan agenda yang tersebar di area dalam maupun luar masjid. Di dalam masjid, kegiatan akan diisi dengan tadarus Al-Qur’an, kuliah subuh, pesantren kilat, serta kajian keislaman rutin.
Sementara itu, area luar masjid akan dioptimalkan sebagai ruang interaksi masyarakat melalui kegiatan hiburan religi, lomba anak-anak, hingga aktivitas keluarga.
Keterlibatan Pemerintah Kota Bandung menjadi salah satu unsur penting dalam pelaksanaan festival tahun ini. Atas arahan wali kota, para camat dari 30 kecamatan dijadwalkan hadir secara bergiliran setiap hari selama Ramadan untuk ikut memakmurkan masjid.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah dan pengelola masjid dalam membangun aktivitas keagamaan yang berkelanjutan.
Baca Juga: 33 Tahun LPT Panghegar: Dukungan Tokoh dan Alumni Iringi Wisuda Angkatan ke-57
Selain itu, panitia juga menyiapkan program buka puasa bersama dengan kapasitas sekitar 1.000 orang setiap hari yang terbuka untuk masyarakat umum.
Program ini diproyeksikan menjadi ruang silaturahmi sekaligus memperkuat nilai kebersamaan lintas latar belakang sosial.
Ramadan Festival juga dirancang sebagai wadah pemberdayaan ekonomi umat. Panitia menargetkan keterlibatan sekitar 20 hingga 30 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sebagian merupakan binaan Masjid Agung Bandung.
Kehadiran UMKM di kawasan masjid diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi selama Ramadan.
Roedy menilai posisi Masjid Agung Bandung yang berada di pusat kota menjadikannya lokasi strategis untuk menggerakkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia optimistis kegiatan ini akan memberikan dampak positif bagi sektor informal serta memperkuat peran masjid sebagai pusat kegiatan umat.
Penyelenggara juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan syariah, perusahaan, dan komunitas.
Dukungan sponsorship dan partisipasi program dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan kegiatan di masa mendatang. Kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah kota dan lembaga zakat, telah mulai dibangun guna memperkuat program sosial dan pemberdayaan.
Ke depan, pengelola Masjid Agung Bandung menargetkan Ramadan Festival tidak berhenti sebagai agenda musiman.
Program ini diharapkan berkembang menjadi kegiatan tahunan yang konsisten, bahkan menjadi pusat aktivitas masyarakat sepanjang tahun.
“Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan, tidak hanya satu kali. Setelah Ramadan pun, masjid harus tetap menjadi ruang kegiatan umat yang aktif,” kata Roedy.
Dengan konsep kolaboratif dan inklusif, Ramadan Festival 2026 diharapkan menjadi tonggak penguatan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, edukasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat di Kota Bandung dan sekitarnya.
