KESATU.CO – Meski masih diliputi polemik penutupan sejak 6 Agustus lalu, Kebun Binatang Bandung tetap berusaha menjalankan perannya sebagai lembaga konservasi. Di balik suasana penuh ketidakpastian, lahir dua anak harimau benggala jantan dari pasangan induk Jelita dan Sarukan yang kini menjadi simbol harapan baru bagi upaya pelestarian satwa.
Kedua bayi harimau itu lahir pada 12 Juli dan kini berusia 78 hari. Berat tubuhnya sudah mencapai sekitar 9 kilogram, dengan pola menyusu tiga jam sekali pada induknya. Sang induk, Jelita, terbukti mampu merawat anak-anaknya secara alami. Sementara tim keeper yang dipimpin Usup rutin memberikan pakan tambahan berupa daging ayam cincang yang lembut, dan kelak akan beralih pada daging ayam utuh maupun daging sapi ketika memasuki usia tiga hingga empat bulan. “Perawatannya dilakukan dengan penuh perhatian, termasuk menjemur mereka agar mendapat cukup sinar matahari,” ujar Sulhan Syafi’i, Humas Bandung Zoo, Senin (22/09/2025).
Kelahiran ini tidak hanya menambah koleksi satwa, tetapi juga menjadi bukti bahwa aktivitas konservasi tetap berjalan meskipun kebun binatang menghadapi situasi sulit. Selama masa penutupan, tercatat ada belasan kelahiran satwa lain yang semuanya dirawat dengan baik oleh tim internal dan biaya operasional yang ditanggung Yayasan Marga Satwa Taman Sari Bisma Brata Kusuma.
Namun di balik kabar menggembirakan itu, Sulhan tidak menutupi fakta bahwa penutupan kebun binatang membawa dampak besar. Program penelitian dari puluhan perguruan tinggi yang biasanya berlangsung di lokasi kini terhenti. Kerja sama dengan mitra luar juga terganggu, begitu pula interaksi satwa dengan pengunjung. “Satwa-satwa yang terbiasa melihat manusia kini menjadi lebih liar, bahkan ada yang menunjukkan tanda-tanda stres karena suasana sepi,” jelasnya.
Bandung Zoo pun berupaya menjaga semangat publik tetap hidup. Mereka membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat langsung melalui program adopsi satwa. Dua bayi harimau benggala itu, misalnya, ditawarkan untuk diangkat sebagai anak asuh simbolis oleh publik. Masyarakat dapat mendaftar lewat akun resmi media sosial atau langsung ke Humas kebun binatang. Setiap calon orang tua asuh akan melalui proses wawancara guna memastikan keseriusan dan komitmen mereka.
Baca Juga: Bitcoin Dominance Mendekati 55%? Altseason Bisa Mundur
Di tengah keterbatasan, pihak pengelola berharap penutupan segera dicabut. Selain kebutuhan finansial yang kian mendesak untuk perawatan satwa, aspirasi masyarakat yang merindukan kembali hadir ke kebun binatang juga semakin kuat. “Banyak sekali yang menanyakan kapan akan dibuka. Kami berharap situasi ini segera berakhir agar aktivitas pendidikan, penelitian, dan konservasi bisa berjalan normal kembali,” tutur Sulhan.
Kelahiran dua harimau benggala ini pada akhirnya menjadi pesan penting: kehidupan tetap berlanjut di Bandung Zoo meski diterpa badai masalah. Perhatian dan dukungan publik sangat dibutuhkan agar kebun binatang tidak sekadar bertahan, tetapi juga bisa terus menjalankan misi konservasi dan pendidikan lingkungan bagi generasi mendatang.
