KESATU.CO – Di sudut sebuah pameran produk unggulan daerah, aroma kopi yang baru diseduh seolah memanggil setiap pengunjung untuk mendekat. Di meja kecil, beberapa kemasan bertuliskan Kopi Sriwijaya tersusun rapi—sebagian berisi biji mentah yang belum di-roasting, sebagian lagi dalam bungkus siap seduh dengan label sederhana namun elegan. Dari sinilah cerita tentang kopi khas Sumatera Selatan itu bermula.
“Ini Robusta dan Arabika, dua-duanya khas Sumatera Selatan,” ujar Arif, dosen Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) yang menjadi bagian dari komunitas Kopi Sriwijaya, Rabu (15/10). Ia tersenyum saat menunjukkan dua toples berisi biji kopi dengan warna dan aroma yang berbeda.
Menurut Arif, permintaan terhadap kopi asal Palembang dan sekitarnya semakin meningkat, baik dari kalangan penikmat kopi murni maupun pelaku usaha kedai kopi. Menariknya, segmen pasar untuk setiap jenis kopi pun sudah terbentuk dengan jelas.
“Kalau untuk coffee shop, yang paling banyak dicari itu Robusta,” kata Arif. “Apalagi yang disajikan dengan susu atau gula aren, karena karakternya kuat dan punya aroma yang khas. Tapi untuk penikmat kopi tanpa gula, biasanya mereka lebih suka Arabika, karena cita rasanya lebih natural dan ringan.”
Kopi Sumatera Selatan, lanjut Arif, memiliki kekayaan rasa yang unik di tiap daerah. Ia menyebut nama-nama tempat seperti Pagar Alam, Muara Enim, dan Lahat, yang masing-masing menyimpan cerita dan cita rasa tersendiri.
“Kopi dari Pagar Alam misalnya, punya rasa seperti gula aren, bahkan ada sentuhan kacang atau pinap,” jelasnya. “Itu karena struktur tanahnya, ketinggiannya, dan cara pencuciannya. Ada juga yang terasa sedikit lemony, tergantung prosesnya. Semua itu tidak bisa didapat dari daerah lain.”
Karakter rasa yang khas inilah yang menjadi daya tarik utama Kopi Sriwijaya. Kombinasi Robusta yang kuat dan Arabika yang lembut membuatnya cocok untuk berbagai selera, dari pecinta kopi rumahan hingga barista profesional.
Baca Juga: Hadir di Pameran KIP 2025, Jasa Tirta II Dorong Budaya Transparansi dan Akuntabilitas
Komunitas Kopi Sriwijaya sendiri baru terbentuk pada 2022–2023. Diinisiasi oleh para akademisi dan pelaku usaha lokal, komunitas ini menghimpun berbagai merek kopi dari Sumatera Selatan, termasuk brand “Kufi” yang dikembangkan tim riset Polsri di bawah koordinasi Ibu Ade Silvia.
Tujuannya sederhana: memperkenalkan kopi asal Bumi Sriwijaya ke pasar yang lebih luas, sambil menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi lokal.
“Kopi ini lahir dari semangat kolaborasi antara kampus dan masyarakat,” ujar Arif. “Kami ingin kopi Sriwijaya bukan hanya dikenal karena rasanya, tapi juga karena semangat lokalnya—dari tanah, dari petani, untuk Indonesia.”
Di tengah gempuran berbagai merek kopi dari seluruh nusantara, Kopi Sriwijaya tampil dengan identitasnya sendiri: aroma kuat, rasa bersih, dan jejak manis khas tanah Sumatera. Ia bukan sekadar minuman, tapi representasi dari kerja keras para petani dan dedikasi akademisi yang ingin memberi nilai lebih bagi daerahnya.
Saat gelas terakhir di pameran itu habis, wangi robusta Palembang masih tertinggal di udara — seolah meninggalkan pesan sederhana: kopi terbaik tidak selalu datang dari ketinggian, tapi dari ketulusan mereka yang menanamnya.
