KESATU.CO – Kita hidup di era ketika segala sesuatu harus tampak. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap amal kebaikan, rasanya tak lengkap bila tidak diabadikan dan diunggah. Layar ponsel menjadi panggung, dan manusia menjadi penontonnya. Di balik layar itu, ada satu pertanyaan yang seharusnya mengguncang hati: sebenarnya, untuk siapa semua ini kita lakukan—Allah atau like?.
Budaya validasi digital menjadikan manusia lebih gelisah ketika postingannya sepi dari komentar, dibandingkan ketika shalatnya kosong dari kekhusyukan. Kita lebih takut kehilangan pengikut ketimbang kehilangan ridha Allah. Amal sholeh pun kadang bergeser maknanya: bukan lagi ibadah yang sunyi, tapi konten yang ramai.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari-Muslim).
Niat yang salah bisa mengubah amal sebesar gunung menjadi debu yang tertiup angin. Allah memperingatkan, “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4–6).
Fenomena ini semakin kentara. Kita lihat orang bersedekah sambil difoto, doa dipublikasikan lewat status, tilawah direkam agar diketahui, bahkan kebaikan kecil sekalipun sering dikejar untuk content. Tentu tidak semua unggahan berarti riya, sebab niat tidak bisa dibaca manusia. Namun, yang berbahaya adalah kecenderungan hati: apakah lebih lega ketika Allah yang tahu, atau ketika manusia yang melihat?.
Psikologi digital memberi kita jawaban pahit. Setiap kali unggahan mendapat like, otak mengeluarkan dopamin—zat yang menimbulkan rasa senang. Itulah mengapa banyak orang ketagihan memamerkan aktivitasnya, termasuk amal ibadah. Validasi manusia terasa nyata, cepat, dan menghibur. Sebaliknya, ridha Allah terasa sunyi, samar, dan menuntut kesabaran. Maka terjadilah pergeseran: kita lebih sibuk mengejar like ketimbang mengejar ridha-Nya.
Bahaya terbesar dari riya bukan hanya gugurnya pahala, tapi hilangnya makna ibadah itu sendiri. Alih-alih menjadi jembatan menuju Allah, amal berubah menjadi panggung narsis yang hanya menambah haus pengakuan. Inilah jebakan zaman exposure: semua ingin terlihat baik, tapi sedikit yang benar-benar ingin menjadi baik.
Baca Juga: Saat Bank Terlalu Hati-Hati, Ekonomi Bisa Mati
Lalu bagaimana menjaga diri? Pertama, jaga niat sejak awal. Sebelum menekan tombol kamera atau mengetik status, tanyakan dalam hati: apakah ini untuk Allah atau untuk manusia?
Kedua, latih amal tersembunyi. Sisakan ibadah atau sedekah yang hanya Allah dan kita yang tahu. Itulah tabungan rahasia yang lebih berharga dari sejuta postingan.
Ketiga, jadikan dzikir sebagai gua batin. Saat dunia digital penuh sorotan, dzikir menjadi ruang sunyi di mana kita hanya ditemani Allah.
Keempat, bijaklah dalam berbagi. Ada kalanya kebaikan perlu dipublikasikan untuk menginspirasi. Tetapi bedakan antara inspirasi dan pamer. Inspirasi mendorong orang ikut berbuat baik; pamer hanya mendorong orang kagum pada kita. Batasnya tipis, tapi hati tahu kemana arahnya.
Kelima, lakukan muhasabah rutin. Setelah beramal, periksa hati: apakah kita merasa tenang karena Allah melihat, atau puas karena banyak yang menonton? Jika yang terakhir lebih dominan, itu tanda alarm yang harus segera disadari.
Era digital bukan musuh. Layar HP bisa menjadi mushaf mini, pengingat shalat, kanal sedekah, bahkan pintu dakwah. Namun layar yang sama bisa pula menjadi cermin riya, ladang ghibah, atau panggung narsisme. Pilihannya ada di hati.
Pertanyaan yang harus selalu kita bawa adalah: apakah amal kita masih terhubung dengan Allah, atau sudah tersambung hanya pada validasi manusia? Sebab like bisa hilang, komentar bisa sepi, algoritma bisa berubah, tetapi catatan Allah tidak pernah salah.
Di akhirat kelak, Allah tidak akan bertanya: “Berapa banyak like yang kau dapat?” Melainkan: “Untuk siapa amalmu kau persembahkan?”.
Maka mari berhenti sejenak, menunduk, dan berbisik dalam hati: Ya Allah, cukup Engkau yang tahu, cukup Engkau yang ridha. Sebab ketika Allah yang mencintai, semua like manusia menjadi tidak lagi penting.(Subchan Daragana/Pemerhati Sosial)
