KESATU.CO, PURWAKARTA — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi melantik Asep Surya Atmaja sebagai Bupati Bekasi untuk sisa masa jabatan 2025–2030.
Dikutip dari Channel YouTube Resmi Biro Adpim Jabar Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Gedung Pakuan, Kota Bandung, pada Jumat (23/10/2026).
Di balik seremoni tersebut, Gubernur Jawa Barat memberikan sederet pesan mendalam dan peringatan menohok kepada kepala daerah yang baru dilantik.
Dedi menekankan agar Bupati Bekasi fokus melayani masyarakat dan tidak bermain-main dengan bisnis di lingkungan pemerintahan.
Peringatan tegas ini disampaikan Dedi Mulyadi mengingat rekam jejak kepemimpinan di Kabupaten Bekasi yang sempat diwarnai persoalan hukum.
Seperti diketahui, dua Bupati Bekasi sebelumnya secara berturut-turut harus melepaskan jabatannya akibat tersandung kasus hukum.
Catatan Sejarah Unik di Kepemimpinan Kabupaten Bekasi
Dedi Mulyadi menilai pelantikan Asep Surya Atmaja mengukir sejarah tersendiri dalam peta politik dan pemerintahan Kabupaten Bekasi.
Pasalnya, fenomena Wakil Bupati yang naik tahta menggantikan Bupati terjadi dua kali secara beruntun dalam pola yang serupa. Lebih unik lagi, keduanya merupakan kakak beradik.
Asep Surya Atmaja merupakan adik kandung dari almarhum Eka Supria Atmaja, mantan Bupati Bekasi yang sebelumnya naik jabatan menggantikan Neneng Hassanah Yasin. Kini, Asep resmi menggantikan posisi Ade Kuswara Kunang.
“Dua kali wakil bupati berubah jadi bupati dalam sebuah kasus yang sama. Dulu yang menggantikan Ibu Neneng adalah kakaknya (Eka Supria Atmaja), sekarang yang menggantikan Pak Ade adalah adiknya (Asep Surya Atmaja),” ujar Dedi.
Sentilan Tegas Dedi Mulyadi: “Bupati Enggak Usah Bisnis Limbah!”
Sebagai pemimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi meminta Bupati Bekasi yang baru untuk benar-benar menjaga integritas dan moralitas kepemimpinan.
Ia menegaskan agar kepala daerah tidak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau terlibat dalam jaringan bisnis internal pemerintahan.
“Bupati enggak usah ikut bisnis-bisnisan. Jadi bupati enggak usah bisnis limbah, bisnis apa, enggak boleh. Bupati fokus pada pekerjaan. Saya yakin, gaji Bapak sudah cukup,” cetus Dedi dengan nada tegas.
Selain masalah integritas, Dedi mengkritik kinerja penyerapan anggaran Pemkab Bekasi.
Ia menyebut Bekasi sebagai daerah kaya dengan kekuatan fiskal luar biasa, namun pemanfaatannya belum dirasakan maksimal oleh rakyat.
Bahkan, ia menyinggung tingginya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Kabupaten Bekasi yang kerap mengendap di bank.
“Bekasi itu rajanya duit. Pemprov Jabar diperkirakan defisit lebih dari Rp1 triliun, tapi di kas daerah Bekasi masih ada Rp1 triliun padahal sudah mau akhir tahun. Uang pajak rakyat ditagih, tapi disimpan di BJB dan tidak dibelanjakan. Duit negara itu harus cepat balik dan dirasakan rakyat,” tambah Dedi.
Dedi mendorong Dokter Asep untuk berani mengeksekusi anggaran demi perbaikan infrastruktur publik, mulai dari jalan mulus, gedung sekolah yang layak, hingga peningkatan fasilitas puskesmas dan rumah sakit daerah.
Fokus Asep Surya Atmaja: Layanan Kesehatan Preventive & Infrastruktur
Menanggapi arahan dan teguran Gubernur Jawa Barat, Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menyatakan siap menindaklanjuti program pembangunan dengan fokus utama pada sektor kesehatan masyarakat dan perbaikan fasilitas publik.
Asep berencana mengoptimalkan peran tenaga kesehatan, khususnya bidan desa, untuk turun langsung ke pemukiman warga guna mendeteksi kondisi kesehatan masyarakat sejak dini.
“Itu jadi program preventif kami agar mengetahui kondisi masyarakat secara langsung. Selain itu, pembangunan infrastruktur juga jadi prioritas untuk segera kita optimalkan,” kata Asep merespons instruksi Gubernur.
Dengan pelantikan ini, masyarakat Kabupaten Bekasi menaruh harapan besar agar kepemimpinan Asep Surya Atmaja mampu membawa perubahan nyata, menyelesaikan persoalan kebersihan lingkungan, serta merealisasikan anggaran daerah untuk kesejahteraan warga.***
