KESATU.CO – Indonesia memang kaya akan orang-orang kreativitas dimana karya mereka disukai pelanggannya.
Ada yang mengkreasikan fashion muslim dengan modern update trend design, ada juga yang mengedepankan kecantikan model berikut bahan yang digunakannya.
Belum lagi dengan pencampuran bahan tradisional seperti batik yang dipadupadankan dengan fashion karyanya. Tentunya, hasil fashion jadi menarik dan indah, apalagi bila dikenakan para model, mengundang decak kagum serta”kepo” para sosialita dan ibu-ibu pejabat.
Dan, hal ini pula yang menjadi motivasi luhur seorang fashion designer Dessy Munaf untuk berkarya. Selain menyalurkan bakat seni indah perihal fashion, ia pun ingin membuka peluang dan rejeki bagi orang-orang terdekatnya.
Setidaknya, bisa memahami dan mengikuti jejak prestasi dirinya di fashion bisa menjadi langkah awal seorang pengusaha fashion.
“Saya terjun ke dunia fashion ini sejak kuliah dulu dimana latar belakang akademis saya bukan di fashion tetapi fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Unila),” terang Dessy Munaf, Senin (10/06/24).
“Nah, cerita bagaimana awal saya bisa menguasai soal fashion ini, itu semua dilatarbelakangi dari saran orang tua kami yang jika dulu waktu kami sekolah kemudian, hari liburan akan tiba, kami diminta untuk mengikuti pelatihan keterampilan kilat yang kami sukai. Kakak saya, Bu Moenz sukanya mengambil pelatihan kuliner dan kakak-kakak lain ada yang mengambil kursus belajar gitar/musik, lukisan dan lainnya,” ungkap Dessy.
Dessy menuturkan bahwa liburan masa sekolah dulu bisa satu bulanan dan ketika mengambil pelatihan keterampilan yang 1-2 minggu,masih ada sisa hari liburan dan uang yang digunakan untuk ikut pelatihan didapat dari uang tabungan yang dihemat dari uang jajan di sekolah.
Fashion designer lulusan Unila ini pun merasa bersyukur atas tempaan dan didikan dari orang tuanya dahulu, sehingga dengan skill yang dikuasai malah bisa menjadi ladang pendapatan dan kebermanfaatan untuk orang lain.
Ia menjelaskan bahwa talent design fashion itu memang begitu kuat sehingga banyak karya fashionnya indah dan disukai orang-orang.
Padahal, jelas Dessy jika melihat ke masa lalunya, dirinya adalah cewek tomboy yang salah satu hobinya adalah naik gunung, apalagi di perkuliahan ia masuk ke perkumpulan Watala di Unila dimana disana berkumpul banyak penyuka pendaki gunung.
Lulusan Unila ini tak menyangka, perjalanan usaha design fashionnya bisa berkembang hingga sekarang. Berawal dari perolehan keilmuan yang didapat dari Sekolah Mode Indonesia (SMODIA) dan Susan BUdiharjo, Dessy bisa eksis di fashion seperti sekarang ini.
Seiring perjalanan, karya fashion Dessy Munaf pun dilirik oleh dinas dan ikutlah pameran-pameran ke mana-mana, dari mulai ikut pameran ke pameran hingga bisa berkembang di beberapa daerah seperti Jogja, Semarang, Makasar, Bandung. Lalu ia pun keliling Asia, sampai ke Cina, Abu Dabby dan lainnya.
Produknya terus berkutat di simplicity style, berbahan linen, cotton, dan viscose. Modelnya pun bisa untuk muslim dress dan umum. Target marketnya bisa untuk ibu dan anak muda. Seiring dengan perkembangan dunia digital, ia pun mengikuti perkembangan jaman dengan menjalankan penjualan via online juga.
“Bersyukur, di awali melalui produk fashion ini dari Disperindag, saya pun diangkat “anak” oleh Sukofindo,” ulas Dessy.
“Agar tetap update terhadap perkembangan dunia Fashion ini, saya pun bergabung dengan teman-teman sesama pengusaha fashion di APPMI. Dengan seperti ini, setiap perkembangan bisa saya dapatkan,” tukas Dessy.
Dessy Munaf seorang designer muda yang peka dengan kenyamanan berpakaian sehingga ia peduli dengan model produk dan materialnya. Dessy berharap kehadiran usaha dan karyanya bisa membuat perkembangan fashion di tanah air semakin maju dan menelurkan bibit baru pengusaha fashion di mana pun.***
