KESATUCO – Palang Merah Indonesia (PMI) terus tingkatkan kesadaran masyarakat kesiapsiagaan bencana gempa bumi. Hal itu dilakukan melalui program kesiapsiagaan bencana dan ketangguhan masyarakat dalam merespon potensi bencana gempa bumi.
“Program ini merupakan rangkaian Tahap II berdasarkan hasil pembelajaran dari proyek Program Earthquake Readiness (EQR) Tahap I sebelumnya, yang berakhir dengan sukses pada tahun 2021,” ujarnya.
Kegiaan yang mendapatkan dukungan pendanaan dari USAID/BHA melalui Palang Merah Amerika ini, termasuk permintaan akan penerapan retrofit aman gempa dan kepatuhan terhadap standar peraturan bangunan.
Baca Juga: Karyakan Total Karang Taruna di Komplek Dirgantara, Hasilnya HUT RI Sukses Menghibur Masyarakat
Hal itu sambil membangun kapasitas kesiapsiagaan bencana lokal di kalangan populasi yang berisiko dan dalam penyedia layanan responsbencana utama di Indonesia.
“Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan bencana gempa bumi di komunitas perkotaan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan individu serta pemberdayaan masyarakat di wilayah rawan gempa bumi,” ucapnya
Acting Country Representative American Red Rross (Amcross) delegasi Indonesia, Muchrizal Harris Ritonga mengatakan, salah satu inovasi utama dari program Tahap II ini adalah pengembangan desain prototipe untuk konstruksi rumah.
Baca Juga: Siap-siap Belanja, Bakal Ada Hujan Diskon di Bandung Great Sale September Nanti
Desain ini dimaksudkan untuk membantu pemilik rumah dalam mendapatkan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG),sehingga mengurangi hambatan dan biaya yang terkait dengan proses tersebut.
“Untuk mendukung kebijakan pemerintah yang baru, proyek ini akan menawarkan layanan teknis dan konsultasi gratis untuk mempermudah proses aplikasi PBG,” ungkapnya.
Bahkan,program yang dinamai Indonesia Earthquake Readiness ini akan melanjutkan program sukses sebelumnya di dua wilayah intervensi, yaitu Kota Sukabumi Jawa Barat dan Banyuwangi Jawa Timur.
Penentuan wilayah tersebut berdasarkan hasil kajian dan penilaian kerentanan terhadap potensi risiko ancaman gempa bumi di dua lokasi program,”terang
Muchrizal Harris Ritonga
“Sejumlah kegiatan terkait program ini akan dilakukannya selama 22 bulan, mulai dari Juli 2024 hingga April 2026 bersama mitra dengann dukungan dari IFRC, Build Change, kementerian PUPR, BNPB, Kemensos, Pusgen, serta mitra strategis lainya seperti Atma Connect dan Peta Bencana,” bebernya
Apalagi, sejak 2014 Palang Merah Amerika (Amcross) sudah bekerja sama dengan PMI dalam berbagai program kegiatan, baik dalam bidang kesehatan maupun dalam penanggulangan bencana serta program lainnya.
Bahkan dengan berbagai keberhasilan program yang sudah dilakukan sebelumnya.
Baca Juga: Lakukan Perbuatan Melawan Hukum Pada Bangunan Bersejarah, PT Jaswita Jabar Disomasi
“Melalui program kerja sama saat ini kita berharap adanya upaya peningkatan kapasitas dan pengetahuan masyarakat, serta mendorong kebijakan pemerintah terutama dalam konteks perubahan perilaku dalam upaya kesiapsiagaan bencana gempa bumi,” katanya
Perwakilan USAID Indonesia Yusak Oppusunggumengatakan, pihaknya sangat senang bisa kembali bekerja sama dan mendukung dalam program kesiapsiagaan bencana gempa bumi di tahap 2 ini terutama dalam upaya penyadaran dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal perkotaan dan mendorong kebijakan dalam kesiapsiagaan potensi bencana gempa bumi.
“Kita semua tahu pada dasarnya bukan gempa bumi yang bersifat membunuh. Melainkan, bangunan yang rubuh akibat bencana itu. Untuk itu sangat penting untuk melakukan perkuatan rumah dengan membangun rumah dengan standar konstruksi aman gempa.”terangnya
Baca Juga: Pasar Otomotif Nasional Sedang Tidak Baik-baik, Penjualannya Melempem, Apa Kata HPM?
Dia menjelaskan, eksistensi PMI saat ini sudah banyak berperan membantu pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana dalam berbagai kondisi.
Baik dalam tahap kesiapsiagaan bencana maupun pada saat tanggap darurat dan pemulihan,” pungkasnya.
