KESATU.CO -BANDUNG, Selama beberapa waktu terakhir, harga sejumlah komoditas pangan mahal. Satu di antaranya beras.
Mahalnya harga beras ditanggapi The National Food Agency (NFA) atau Badan Pangan Nasional (Bapanas). Lembaga bentukan pemerintah ini punya versi tentang penyebab mahalnya harga beras.
Melansir beberapa sumber, kepada media, Rachmi Widiriani Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas, menuding biaya produksi termasuk faktor pemicu mahalnya harga beras.
Rachmi Widiarini menyatakan, masifnya nominal biaya produksi menyebabkan harga beras menjadi mahal selama beberapa waktu terakhir.
“Ongkos atau biaya untuk bercocok tanam padi dan proses produksi beras tidaklah murah. Pada sisi lain, petani berhak memperoleh keuntungan. Jadi, itulah (biaya produksi) yang membuat harga beras mahal,” dalih Rachmi Widiarini.
Saat ini, kata wanita berjilbab itu, kalangan petani menikmati keuntungan. Harga gabah melebihi Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Tidak itu saja, saat ini pun Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan, berada pada level yang positif.
Jika demikian, lanjutnya, masyarakat bisa memperoleh beras dalam harga yang cukup terjangkau.
Agar produktivitas pertanian lebih bergairah, Rachmi Widiarini menyatakan, perlu adanya sejumlah upaya dan efisiensi seperti pengembangan inovasi melalui pemanfaatan teknologi.
Baca Juga: September Ceria, Battle 3 Genre Musik di Panggung GTV Love Music
Misalnya, sahut dia, dalam hal pembenihan, pemanfaatan drone bisa menghemat biaya sebesar 30 persen daripada pola-pola konvensional.
Pada sisi lain, The World Bank alias Bank Dunia menyatakan, harga beras di Bumi Pertiwi lebih mahal 20 persen daripada negara-negara kawasan Asia Tenggara.
Ironisnya, kondisi itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani, yang relatif rendah.
Hasil Survei Terpadu Pertanian 2021 menunjukkan, kesejahteraan petani tanah air masih minum, tidak melebihi 1 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp15.207 per hari
Tentu saja, nominal penghasilan kalangan petani nasional itu sangat tidak sebanding dengan biaya produksi.
Karenanya, kondisi itu menyebabkan masyarakat Indonesia harus membeli beras dalam harga yang mahal. (*)
