KESATU.CO – BANDUNG, Tidak pelak lagi, Indonesia memiliki beragam sektor ekonomi yang seksi bagi investor. Adalah industri Jasa Keuangan (IJK) satu di antaranya.
Buktinya, tiga negara Asia Timur, Korea Selatan (Korsel), Hong Kong, dan Jepang masih melangsungkan proses akuisisi enam korporasi multifinance.
Kepada media, Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) Otoritas Jasa Keuangan (OJK),, mengiyakan akuisisi enam multifinance oleh investor asal Korsel, Hong Kong, dan Jepang masih berproses.
Agusman mengungkapkan, empat di antara enam korporasi multifinance tersebut menuntaskan pelaporan proses akuisisi. “Dua lainnya (korporasi multifinance) masih dalam proses,” tandas Agusman.
Para investor mancanegara itu, lanjutnya, berminat investasi pada multifinance yang menggarap pembiayaan kendaraan bermotor.
Bagi korporasi multifinance, investasi tersebut merupakan hal krusial. Pasalnya, melalui investasi, korporasi-korporasi multifinance, yang jumlahnya sebanyak 147 entitas, bisa memenuhi persyaratan modal minimum.
Lalu, apa yang menjadi data tarik korporasi multifinance, khususnya pembiayaan kendaraan bermotor, sehingga investor mancanegara berhasrat investasi?
Baca Juga: Piutang Pinjol Bertambah Banyak, OJK: Nilai Pembiayaannya Fantastis, Lampaui Level Rp70 Triliun!
Agusman mengatakan, hingga Agustus 2024, nilai pembiayaan kendaraan bermotor roda dua atau sepeda motor bergeliat 12,94 persen secara tahunan. Nominalnya, sebut dia, pada posisi Rp108,49 triliun.
Agusman meneruskan, hingga Agustus 2024, nominal pembiayaan kendaraan bermotor roda empat, baik produk baru maupun bekas, meski pasarnya tidak sebergairah tahun sebelumnya, angkanya lebih masif daripada pembiayaan kendaraan bermotor roda dua.
Yakni, ucapnya Rp240,86 triliun. Nilai pembiayaan kendaraan bermotor roda empat tersebut lebih banyak 12,58 persen daripada periode sama tahun sebelumnya.
Hal itu menunjukkan, jelas Agus, sektor pembiayaan kendaraan bermotor di Indonesia kasih prospektif. (*)
