KESATU.CO – Smile Train, sebuah organisasi global nirlaba, telah berkomitmen untuk membantu penyembuhan celah bibir dan langit-langit pada masyarakat yang membutuhkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Melalui program operasi gratis dan dukungan medis berkelanjutan, Smile Train telah memberikan dampak nyata bagi ribuan anak dan keluarga.
Menurut laporan terbaru dari Smile Train, organisasi ini telah berhasil melakukan lebih dari 1,5 juta operasi di seluruh dunia sejak didirikan.
Di Indonesia sendiri, Smile Train bekerja sama dengan banyak rumah sakit dan tenaga medis local, juga Yayasan seperti misalnya Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit (YPPCBL) untuk memastikan anak-anak yang lahir dengan kondisi ini mendapatkan perawatan yang layak.
“Kerja sama kami dengan YPPCBL untuk penanganan anak yang memiliki celah bibir dan langit-langit sejak tahun 2002. Jadi, kami sudah bekerja sama selama 22 tahun,” ujar Deasy Larasati, Country Manager & Program Director Smile Train Indonesia, Senin (07/10/2024).
“Seperti yang dilihat, beberapa pasien yang dulunya masih bayi sekarang sudah beranjak usia dan bisa tampil di kegiatan. Memang, bantuan dari Smart Train itu tidak hanya melakukan operasi Celah bibir lalu selesai. Tetapi, bagaimana pasien ini bisa mendapatkan hasil maksimal,” ungkap Deasy.
Deasy menjelaskan bahwa kegiatan pemulihan pasien juga jadi concern. Apakah setelah operasi yang dijalankan, bicara pasien jadi normal, apakah makan atau minum pasien tidak keluar lagi lewat hidung? Hal ini menjadi perhatiannya disebabkan sebelum operasi, adanya celah di langit-langit pada pasien menjadikan makanan tersebut bisa keluar lagi lewat hidung.
Hal tersebut di atas menjadi perhatian dari Deasy untuk memantau agar pasien yang menerima operasi bisa menikmati hasilnya dengan baik.
Ia pun menuturkan bahwa dalam kondisi proses pemulihan pasien dibutuhkan perhatian dari banyak pihak, seperti pihak keluarga misalnya sehingga bantuan yang diberikan itu bisa berkelanjutan dan secara maksimal diterima oleh pasien.
Hasilnya, pihak Smile Train juga bisa melihat perubahan, bagaimana cara bicara si pasien,apakah bicara si pasien sudah bisa berkata dengan sesuai yang bisa dimengerti. Itu juga yang menjadi salah satu bentuk dukungan dan bantuan dari Smile Train.
“Berkaitan dengan jumlah pasien bibir sumbing, istilah yang masyarakat kebanyakan tahu, mengacu, membandingkan dan juga mensurvey hasil statistic jumlah penduduk, kalau kita spesifik tentang Indonesia dimana negara ini populasinya cukup besar jumlah penduduknya dimana saat ini hampir mendekati 300 jutaan, dengan jumlah 38 propinsi, namun ada 5 pulau yang jumlah penduduknya itu setengahnya sama dengan jumlah penduduk Indonesia,seperti pulau Jawa, Sumatera, Irian Jaya,” imbuh Deasy.
“Kalau tingkat asia dari di 700 kelahiran, itu pasti 1 bayi lahir dalam keadaan berbibir sumbing. Kalau jumlah populasinya di Indonesia saja rata-rata per tahun kelahiran bayi bibir sumbing, itu kurang lebih sekitar 8.000-an bayi lahir dengan bibir sumbing,” tutur Deasy.
Deasy menjelaskan bahwa kondisi bayi yang lahir berbibir sumbing itulah yang menjadi bentuk concern daripada Smile Train. Sampai saat ini, hanya di Indonesia, Smile Train membantu kurang lebih 8.000 sampai dengan 9.000 operasi per tahun.
Ia juga menerangkan mengapa bisa sampai memastikan hal tersebut karena memang jumlah pasien itulah yang disuport oleh Smile Train kepada anak-anak bibir sumbing. Dan mengapa hal ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat karena memang hal-hal yang menjadi kepercayaan atau dipercayai oleh masyarakat bahwa bibir sumbing itu mitos. Banyak hal tabu yang mereka adopsi dari kebiasaan-kebiasaan dimana secara medis itu tidak ada hubungannya.
“Penyebab bibir sumbing itu sampai sekarang diyakini, penyebab utamanya belum diketahui dari mana. Kasusnya ini multifactor. Seorang perempuan bisa melahirkan itu punya potensi dapat melahirkan bayi dengan bibir sumbing,” ulas Deasy.
“Mengapa kondisi di atas bisa terjadi? Karena penyebabnya adalah pada three semester pertama, kebutuhan gizi kurang untuk pembentukan janinnya sehingga terbentuk celah bibir, kemudian bisa saja terjadi anaknya jatuh dan berdampak pada bibir, atau bisa saja terjadi karena faktor keturunan, itu juga masih banyak ditemui. Karena itu, kita juga sampai sekarang terkadang menemui seperti bapaknya berbibir sumbing, atau anaknya atau juga cucunya yang punya bibir sumbing,” pungkas Deasy menutup pembicaraan.
