KESATU.CO, PURWAKARTA – Sebelumya Publik Media Sosial dihebohkan oleh polemik lagu yang diunggah oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, atau yang akrab disapa Om Zein . Lagu berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” tersebut menuai sorotan tajam dari publik karena dinilai sebagian kalangan mengandung narasi yang merendahkan kaum perempuan.
Menanggapi kontroversi yang menggelinding bak bola liar ini, Tokoh Pemimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi, langsung mengambil tindakan dengan memanggil Om Zein untuk meminta klarifikasi. Menariknya, alih-alih memberikan teguran formal yang kaku, Dedi Mulyadi justru menjatuhkan “sanksi sosial” yang sangat unik sekaligus menyentuh sisi kemanusiaan: memuliakan kaum perempuan.
Sanksi Sosial: Renovasi 10 Rumah Janda Menggunakan Uang Pribadi
Dalam pertemuan yang berlangsung penuh ketegasan namun persuasif tersebut, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya seorang pemimpin untuk menjaga marwah dan memberikan teladan yang baik kepada masyarakat, khususnya dalam menghormati kaum perempuan.
“Kalau saya bolehlah memberikan sanksi sosial, sanksinya adalah Bapak Bupati (Om Zein) merenovasi 10 rumah untuk janda muda di Purwakarta tanpa menggunakan APBD. Itu artinya harus menggunakan uang pribadi. Sekaligus membantu pendidikan anak-anak mereka, sebagai bagian dari memuliakan perempuan,” tegas Dedi Mulyadi.
Sanksi ini langsung mencuri perhatian publik. Langkah Dedi Mulyadi dinilai cerdas karena mampu mengubah polemik negatif menjadi sebuah aksi nyata yang berdampak sosial positif bagi warga miskin dan keluarga yang membutuhkan di Purwakarta.
Kronologi Kontroversi Lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat”
Polemik ini bermula ketika Om Zein mengunggah sebuah video musik di akun media sosial pribadinya pada Januari 2026. Lagu berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” tersebut langsung memicu perdebatan sengit di kolom komentar netizen.
Sebagian pihak menilai liriknya kurang pantas diunggah oleh seorang pejabat publik dan dianggap menyudutkan gender tertentu. Kritik pun berdatangan dari berbagai organisasi kemasyarakatan yang menyayangkan publikasi karya tersebut di tengah upaya daerah membangun citra Purwakarta yang ramah gender.
Klarifikasi Om Zein: “Itu Otobiografi Masa Lalu Saya yang Nakal”
Di hadapan Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein memberikan penjelasan mendalam mengenai latar belakang terciptanya lagu tersebut. Om Zein menegaskan bahwa karya itu sama sekali tidak memiliki niat tersembunyi untuk merendahkan kaum perempuan.
Diciptakan Tahun 2020: Lagu dan puisi tersebut ditulis jauh sebelum dirinya menjabat sebagai bupati.
Refleksi Diri: Karya tersebut merupakan bentuk otobiografi visual atas kenakalan masa lalunya sendiri.
Ungkapan Penyesalan: Liriknya mencerminkan renungan pribadi tentang betapa sulitnya menjaga diri di masa lalu.
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal. Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” ungkap Om Zein dengan nada penuh penyesalan.
Ia pun secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat luas yang merasa tidak nyaman dengan peredaran lagu tersebut.
“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” tambahnya.
Transformasi Menuju Pengabdian Masyarakat
Lebih lanjut, Om Zein menceritakan bahwa garis hidupnya mulai berubah total sejak ia mendapat dorongan dan mentor politik dari Dedi Mulyadi untuk maju sebagai calon Bupati Purwakarta. Sejak momen titik balik itulah, ia berkomitmen penuh untuk meninggalkan masa lalunya yang kelam, memperbaiki diri, dan memfokuskan seluruh energinya untuk mengabdi kepada masyarakat Purwakarta.
Komitmen tersebut kini diuji lewat pemenuhan sanksi sosial yang diberikan. Dengan merenovasi 10 rumah janda kurang mampu dan membiayai pendidikan anak-anak mereka menggunakan dana pribadi, Om Zein diharapkan mampu membuktikan secara nyata bahwa dirinya telah bertransformasi menjadi pemimpin yang peduli dan protektif terhadap kaum perempuan.
Publik kini menunggu realisasi dari sanksi sosial ini, yang digadang-gadang akan menjadi percontohan unik bagaimana sebuah kekhilafan komunikasi seorang pejabat dapat dikonversi menjadi program kesejahteraan masyarakat yang tepat sasaran.***
