KESATU.CO – Perjalanan melelah selama beberapa jam sepertinya hilang tak tersisa saat berkunjung ke desa wisata Cibeusi. Melewati tempat wisata air belerang panas Ciater menuju beberapa kilo ke dalam, menyusuri pepohonan, pohon-pohon dan pemukiman penduduk hingga akhirnya tiba di pelataran sawah dan tempat yang rapih, sejuk dan bersih, jadi tujuan banyak pencari “healing”.
Apalagi, setelah tiba di tempat tujuan Lesehan Sawah Ciangin, suara menderu jatuhan air dari curug menjadi kekhasan yang dinantikan banyak orang.
Dilengkapi tenda-tenda berlokasi di beberapa titik, ada warung penyedia beragam snack, panganan dan minuman, menjadikan lokasi desa Cibeusi layak dijadikan tempat berlibur bersama.
“Sejak tahun 2015, tempat wisata ini didirikan, saya memulainya dengan bertahap dan bersabar. Pendirian tempat-tempat seperti yang dilihat ini benar benar kekuatan dari dalam diri. Saya berpikir, nanti setelah tiba waktunya, tempat ini akan jadi tujuan orang-orang dari Indonesia ataupun luar negeri yang ingin berkunjung dan menikmati kuliner serta alam wisata di sini,” ungkap Kacep sebagai perintis Lesehan Sawah Ciangin menuturkan.
“Desa Cibeusi ini telah berhasil mendapat penghargaan tangan emas dari kementrian karena mampu mengubah kekuatan lokal yang ada di desa CIbeusi ini jadi produk yang diminati masyarakat luar Cibeusi. Kopi, gula aren, beras hitam, beras merah dan lainnya jadi produk yang diminati dan dibutuhkan oleh daerah lain,” ulas Kacep.
Baca Juga: Mau Tambah Cuan? Yuk Investasi, Bank BJB Tawarkan Instrumen Ini: ORI027, Apa Keunggulannya?
Menurut Kacep, apalagi dengan suguhan kuliner Lesehan Sawah ini menjadi daya tarik magnet terbesar orang-orang dari kota mau menyediakan waktu berkunjung ke sini. Tak heran, Sandi Uno yang dikenal sebagai mentri Pariwisata di tahun 2024 pernah berkunjung dan meninjau Desa CIbeusi ini.
Ia menjelaskan dengan panjang lebar juga bagaimana aparat pemerintah seperti Pj. Gubernur, Kapolres Subang dan lainnya pernah makan dan beristirahat di sini.
Kacep merasa bersyukur, jerih payah untuk membuat desa tempat tinggal bersama keluarganya akhirnya bisa ikut menikmati sajian di di lesehan sawah dan menjadi tempat berikhtiar para warga di sini.
“Dulu pada saat merintis, saya sempat sebar keindahan desa Cibeusi ini melalui sosial media yang ada, seperti Facebook, Twiter, dan lainnya. Dulu belum dikenal Tik Tok seperti sekarang. Instagram ada tapi belum seviral sekarang. Dan alhamdulilah, respon orang-orang bahkan dari Jepang, Korea, warga negara Eropa, Amerika, pernah berkunjung dan menikmati sajian daerah lokal kami di sini,” imbuh Kacep.
“Meja dan tempat duduk yang ditempati saat ini, hadir karena mereka orang-orang luar negeri tidak bisa duduk lesehan karena tubuhnya besar juga. AKhirnya, saya buatkan meja dan kursi untuk makan di sini. SEmentara, mereka yang menyukai lesehan, tetap disediakan tempatnya di sana,” terang Kacep sambil menunjukkan tempat lesehan yang asri di dua tempat.
Menurut Kacep, perjuangan untuk merintis Lesehan Sawah ini sempat viral namun terhenti karena ada peristiwa pandemi covid 19. Dan sekarang mulai lagi sejak tahun 2023 hingga seterusnya.
Ayah dua anak ini menjelaskan bahwa tempat ini akan mulai banyak dikunjungi lagi karena memang terbukti, aparat pemerintahan sudah membantu banyak terutama Dinas Pariwisata Kab. Subang dan Desa CIbeusi sendiri yang selalu suport terhadap kegiatan warga di sini.
Kacep berharap ke depannya, Desa CIbeusi bisa menjadi inspirasi bagi desa lainnya untuk terus mengelola daerah yang ada agar bisa jadi sumber pendapatan warganya, sumber inspirasi bagi yang lain juga.
“Sekarang, kegiatan Lesehan dan WIsata di sini sudah ditangani oleh putra saya, Adrian dan karyawan juga. Selain itu, penduduk pun sudah memahami bagaimana menyambut pengunjung dan memberikan pelayanan bagi para wisatawan. Semoga Desa Cibeusi dan Lesehan Sawah ini tetap jadi favorit pilihan orang orang di Jawa Barat, Indonesia dan luar negeri,” pungkas Kacep menutup pembicaraan.
