KESATU.CO – Pernahkah membayangkan buah nanas yang kini begitu mudah kita temui di pasar, pernah menjadi simbol kekayaan dan kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh para bangsawan Inggris?
Ya, buah tropis ini dulunya begitu langka dan berharga, bahkan harganya setara dengan sebuah kereta kuda!
Baca Juga: Program BRI Menanam di Berau Sukses Serap 2.987 Kg Karbon dan Tingkatkan Ekonomi Petani Lokal
Ketika Nanas Menjadi Simbol Kekayaan dan Kemewahan
Pada abad ke-17, nanas bukan sekadar buah tropis, melainkan puncak hierarki makanan dan simbol kemewahan di kalangan bangsawan Inggris.
Begitu istimewanya buah ini, Raja Charles II dari Inggris mengabadikan momen penerimaan nanas dari Barbados dalam sebuah lukisan karya Hendrick Danckerts pada tahun 1675.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Purwakarta, Om Zein Larang Rapat Dinas di Luar Kantor
Melansir dari CNN, Francesca Beauman, penulis buku “The Pineapple: King of Fruits”, mengungkapkan bahwa karena nanas tidak berasal dari Eropa dan sulit dibudidayakan di iklim Inggris, keberhasilannya tumbuh di tanah Britania menjadi prestasi besar.
Para bangsawan berlomba membangun rumah kaca khusus, atau pineries, untuk menumbuhkan nanas, meski membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Harga sebuah nanas bisa mencapai 80 pound sterling, setara dengan harga sebuah kereta kuda lengkap dengan kudanya, atau sekitar 15.000 dolar AS dalam nilai mata uang saat ini.
Menariknya, nanas lebih sering dipajang sebagai dekorasi daripada dikonsumsi. Kaum elit bahkan menyewakan nanas hanya untuk dipamerkan di pesta-pesta sebelum akhirnya dikembalikan.
“Nanas itu akan dipajang di meja makan sebagai simbol status, dan biasanya dibiarkan begitu saja sampai mulai membusuk, karena untuk apa Anda memakan nanas? Itu sama saja seperti memakan tas tangan Gucci,” kata Beauman.
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Purwakarta, Om Zein Larang Rapat Dinas di Luar Kantor
Pengaruh nanas dalam budaya Inggris begitu besar hingga menginspirasi desain arsitektur dan seni, terlihat pada berbagai bangunan bersejarah seperti menara barat Katedral St. Paul dan Dunmore Pineapple di Skotlandia.
Meski status eksklusifnya mulai memudar seiring meningkatnya impor, hingga abad ke-19 nanas masih menjadi lambang kemewahan yang hanya bisa diimpikan banyak orang, sebagaimana tergambar dalam novel David Copperfield karya Charles Dickens.
Subang: Pewaris Kejayaan Nanas di Jawa Barat
Kini, warisan kemewahan itu hidup kembali di Kabupaten Subang, yang telah menjelma menjadi pusat produksi nanas terbesar di Jawa Barat.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Akan Jamin Keluarga Ekonomi Lemah Terdampak Proses Hukum
Setelah resmi memisahkan diri dari Kabupaten Purwakarta melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1950 yang kemudian direvisi dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968, Subang berhasil membangun identitasnya sendiri.
Dengan produksi mencapai 167.413,67 ton pada tahun 2023, Kabupaten Subang memantapkan posisinya sebagai penghasil nanas terbesar di Jawa Barat.
Prestasi ini semakin diperkuat dengan hadirnya varietas unggulan “Simadu”, sebuah jenis nanas khas Subang yang terkenal dengan cita rasa manisnya yang menyerupai madu.
Baca Juga: Umrah Makin Mudah! BRI dan Garuda Indonesia Hadirkan Promo Menarik di GUTF 2025
Julukan “Kota Nanas” kini melekat erat dengan identitas Subang, menjadikan buah tropis ini sebagai penggerak utama perekonomian daerah.
Keberhasilan sektor perkebunan nanas tidak hanya memberikan kebanggaan bagi masyarakat Subang tetapi juga membedakannya dari kabupaten lain di Jawa Barat, termasuk Purwakarta yang dahulu menjadi kabupaten induknya.***
