KESATU.CO — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat menyampaikan bahwa hingga April 2025, kinerja industri jasa keuangan (IJK) di wilayah Jawa Barat tetap tumbuh dalam kondisi stabil dengan profil risiko yang terjaga. Pertumbuhan ini ditunjukkan melalui sejumlah indikator di sektor perbankan, lembaga keuangan non-bank, pasar modal, serta peningkatan literasi dan perlindungan konsumen.
Perbankan Tumbuh Positif Meski Terdapat Perlambatan Kredit Total penyaluran kredit oleh perbankan di Jawa Barat mencapai Rp628 triliun atau tumbuh 3,85% secara tahunan (YoY), meskipun mengalami perlambatan dibanding April 2024 yang mencapai 9,64%. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 1,50%, sedangkan total aset naik 1,74%. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat pada angka 91,36%, menunjukkan intermediasi berjalan optimal, meski rasio kredit bermasalah (NPL) naik menjadi 3,93%.
“Perlambatan kredit disebabkan oleh penurunan signifikan pada sektor konstruksi, perdagangan, dan industri pengolahan. Kota Banjar, Sukabumi, Cirebon, Tasikmalaya, dan Bandung Barat tercatat memiliki rasio NPL tertinggi,” ujar Darwisman, Kepala OJK Jabar, Selasa (01/07/2025).
Bank Umum mendominasi industri perbankan Jawa Barat dengan pangsa aset, DPK, dan kredit di atas 96%. Namun, Bank Umum yang berkantor pusat di Jawa Barat mengalami tekanan, dengan laba turun 22,21% akibat peningkatan nominal NPL sebesar 58,51%.
Kinerja BPR dan BPRS menunjukkan pertumbuhan moderat dengan total aset naik 2,67% menjadi Rp32,71 triliun, DPK naik 3,54%, dan kredit naik 2,86%. Namun, rasio NPL gross memburuk menjadi 12,69%. Meskipun demikian, laba BPR dan BPRS meningkat tajam 498,1%.
BPR/BPRS milik Pemerintah Daerah juga mencatatkan pertumbuhan positif. Total aset naik 3,22%, DPK naik 2,82%, dan kredit tumbuh 4,63%, menunjukkan bahwa institusi milik Pemda tetap memiliki daya saing di tengah dinamika pasar.
Di sisi lain, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi tumpuan bagi pelaku UMKM. Jawa Barat menempati posisi ketiga nasional dalam realisasi KUR dengan total Rp2,55 triliun kepada 85.923 pelaku usaha. KUR Mikro mendominasi dengan porsi 63,74%.
Baca Juga: Butuh Dana Cepat? Cairkan Limit Kartu Kredit BRI Langsung via BRImo Tanpa Ribet, Begini Caranya
Jumlah investor pasar modal meningkat 7,43% dengan nilai transaksi saham mencapai Rp23,09 triliun atau tumbuh 47,57% (YoY). Pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp80 triliun dengan rasio NPF 2,98%. Fintech Lending juga tumbuh pesat, mencapai Rp19,96 triliun dengan tingkat wanprestasi (TWP90) sebesar 3,34%.
Namun, sektor dana pensiun mencatatkan kontraksi 5,41% menjadi Rp24,67 triliun, yang menunjukkan adanya tekanan pada aspek jaminan hari tua di tengah fluktuasi pasar.
Penguatan Literasi Keuangan dan Perlindungan Konsumen
OJK Jawa Barat mencatat pelaksanaan 825 kegiatan literasi keuangan hingga April 2025 yang menjangkau 78.599 peserta. Program unggulan seperti OJK PEDULI, SIMOLEK, dan Financial Literacy Series terus digelar guna meningkatkan inklusi keuangan di seluruh lapisan masyarakat.
Dari sisi perlindungan konsumen, sebanyak 200 layanan aduan telah diterima OJK, dengan 55,5% telah terselesaikan. Selain itu, Satgas PASTI telah menghentikan 12.721 entitas keuangan ilegal, memblokir 4.053 aplikasi/website, serta 117 rekening bank dan 2.422 nomor ponsel mencurigakan.
“Dengan pencapaian ini, OJK Provinsi Jawa Barat akan terus memperkuat fungsi pengawasan, mendorong intermediasi berkualitas, serta memastikan perlindungan konsumen dan stabilitas sistem keuangan berjalan secara harmonis dan berkelanjutan. OJK optimistis, dengan kolaborasi yang solid antara pelaku industri dan masyarakat, ekosistem jasa keuangan di Jawa Barat akan semakin inklusif dan tangguh menghadapi tantangan masa depan,” pungkas Darwisman.
