KESATU.CO – UMKM kuliner binaan BRI kembali mencatatkan prestasi membanggakan dengan berhasil menembus pasar ekspor internasional. Sanrah Food, usaha makanan beku yang dipimpin Lina S. Rahmania dari Serpong, Tangerang Selatan, berhasil mengikuti pameran FHA Food & Beverage 2025 di Singapura pada April lalu.
Perjalanan UMKM kuliner binaan BRI ini dimulai tahun 2015 ketika Lina mencari kesibukan setelah suaminya pensiun. Berawal dari membuka Warung Bebek Mas Yogi di Jakarta, Lina kemudian mengembangkan produk makanan beku siap makan karena menilai bisnis warung membutuhkan pengelolaan yang kompleks.
“Kalau mau jadi UMKM itu ternyata harus punya produk sendiri. Kebetulan adik saya punya usaha rumah makan bebek, dari situ saya coba tanya-tanya dan akhirnya saya buka warung juga di Jakarta namanya Warung Bebek Mas Yogi,” cerita Lina.
Baca Juga: Serikat Pekerja Bersitegang dengan pihak security Red Guard yang tidak ada kontrak dengan YMT
Setelah setahun menjalankan warung, Lina memutuskan beralih ke produk makanan beku. Pengalaman mengelola rumah makan yang membutuhkan pengelolaan karyawan, biaya sewa ruko, dan harus siap siaga sepanjang waktu membuatnya mencari alternatif bisnis yang lebih efisien.
Produk pertama Sanrah Food adalah bebek ungkep kemasan, lengkap dengan sambal dalam botol. Kini, UMKM kuliner binaan BRI ini telah mengembangkan sekitar 20 produk termasuk berbagai variasi sambal kemasan, bebek ungkep, ayam ungkep, cumi mercon, hingga paru pedas beku.
Baca Juga: Bupati Purwakarta Pimpin Langsung Pagelaran Tradisi Muru Indung Cai
“Sanrah Food kita buat, kita urus semua legalitasnya. Kita fokus jualan sambal dan produk frozen karena dari segi risiko lebih minim. Untuk produk best seller sebenarnya Sambal Hj Lina yang utama karena itu yang bisa kita ekspor. Selain itu, bebek ungkep juga yang paling banyak dicari. Tapi produk lainnya juga ada market-nya sendiri karena kita juga suplai ke beberapa resto,” ujar Lina.
Dukungan BRI menjadi kunci kesuksesan UMKM kuliner binaan BRI dalam menembus pasar ekspor. Lina mulai mengikuti pameran bersama BRI sejak 2020, dari tingkat nasional hingga internasional. Pameran FHA Food & Beverage 2025 di Singapura menjadi pencapaian terbaru dimana hanya 20 usaha yang terpilih mengikuti expo tersebut.
Baca Juga: BRI Klasterkuhidupku, Ini Cara Bank Rakyat Indonesia Bikin Peternak Susu Naik Kelas
“Saya mulai ikut expo bersama BRI pada tahun 2020-an. Saya sering ikut expo mulai yang nasional sampai internasional, terakhir di Singapura awal tahun ini. BRI ini kan punya banyak UMKM binaan, sampai ribuan. Dan saya merasa sangat bangga bisa terpilih kurasi,” cerita Lina.
Program pemberdayaan BRI untuk UMKM kuliner binaan BRI mencakup pendampingan usaha, akses pendanaan KUR yang mudah, serta berbagai fasilitas pameran. BRI menyediakan penjemputan, pengiriman produk gratis, penginapan, makanan, bahkan membeli sampel produk untuk keperluan expo.
Baca Juga: Bukti Ketangguhan Bank Nasional Kelas Dunia, BRI Borong 15 Penghargaan Internasional 2025
Keikutsertaan dalam expo yang diselenggarakan BRI berdampak signifikan dalam memperkenalkan produk UMKM kuliner binaan BRI ke pasar yang lebih luas dan meningkatkan penjualan. Lina berkomitmen terus mengembangkan Sanrah Food dengan mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pasar.
“Kalau usia mungkin beda, tapi semangat saya tetap nggak mau kalah. Saya tetap berusaha mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan pasar agar Sanrah Food tetap bisa menghasilkan produk yang berkualitas,” lanjutnya.
Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menegaskan komitmen BRI dalam membangun ekosistem pemberdayaan UMKM yang menyeluruh dan berorientasi global. BRI berkomitmen membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi agar semakin banyak UMKM Indonesia dapat go global dan berkontribusi di pentas ekonomi dunia.
“Pencapaian Sanrah Food menjadi cerminan dari bagaimana daya saing UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk semata. Dukungan pemberdayaan yang komprehensif, mulai dari pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha hingga konektivitas pasar global, menjadi faktor kunci dalam mendorong UMKM untuk naik kelas”, jelas Hendy.***
