KESATU.CO – Masjid Raya Bandung kembali meneguhkan dirinya sebagai episentrum perubahan dengan meluncurkan Deklarasi Muslimah Indonesia, sebuah gerakan yang menempatkan perempuan sebagai motor penggerak bangsa. Acara yang berlangsung khidmat pada 25 Agustus 2025 itu dihadiri oleh tokoh nasional Mayjen TNI Dr. Nugraha Gumilar, M.Sc., Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung H. Roedy Wiranatakusumah, S.H., serta ratusan jamaah dan muslimah.
Deklarasi ini menjadi tonggak penting bagi kebangkitan perempuan Indonesia, khususnya muslimah, untuk tampil sebagai sosok mandiri, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi nyata di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Kisah Inspiratif Seorang Mualaf
Dalam kesempatan tersebut, Mayjen Nugraha Gumilar menyampaikan pengalaman yang menyentuh hati. Ia menuturkan kisah Nur Siti Aisyah, seorang perempuan asal Manado yang mantap memilih Islam meski harus menghadapi penolakan dari keluarganya.
“Saya yang muslim sejak lahir merasa terenyuh. Ibu Aisyah, yang rela dicampakkan keluarganya demi keyakinannya, tetap teguh dan bahkan mampu tersenyum menghadapi ujian berat itu. Hidayah Allah begitu nyata dalam dirinya, dan ia menjadi inspirasi bagi kita semua,” ungkap Gumilar, Senin (25/08/2025).
Menurutnya, perjalanan Aisyah adalah bukti nyata firman Allah dalam Al-Qur’an, bahwa setiap ujian tidak akan diberikan melebihi kemampuan hamba-Nya. “Ujian yang berat justru melahirkan keteguhan. Semoga kita semua belajar dari ketulusan dan kekuatan Ibu Aisyah,” tambahnya.
Senada dengan Gumilar, Ketua Nadzir Masjid Raya Bandung, Roedy Wiranatakusumah, menekankan bahwa perjalanan Aisyah menggambarkan keteguhan iman sekaligus keberanian seorang muslimah dalam menghadapi tekanan hidup.
“Beliau lahir dari keluarga non-muslim, dikucilkan karena memilih Islam, tetapi mampu bangkit dan menginspirasi. Kisah ini menyayat hati sekaligus memberi pelajaran berharga bahwa kekuatan seorang perempuan bisa menjadi fondasi bagi perubahan besar,” ujar Roedy.
Lebih jauh, Roedy menegaskan bahwa inisiatif Muslimah Indonesia Berkarya adalah wadah penting bagi perempuan Indonesia untuk menunjukkan jati dirinya. “Gerakan ini akan melahirkan muslimah yang berkarakter, berkualitas, dan mampu berkontribusi, tidak hanya untuk keluarga tetapi juga untuk masyarakat dan bangsa,” imbuhnya.
Baca Juga: Deklarasi Muslimah Indonesia Berkarya, Lahir dan Hadir Sebagai Solusi Muslimah Hebat Berkarya
Deklarasi Muslimah Indonesia Berkarya
Dalam pidatonya, Nur Siti Aisyah, S.E., selaku pencetus gerakan, menyampaikan tujuan utama deklarasi ini: menyediakan ruang luas bagi muslimah untuk mengembangkan potensi diri. Mulai dari pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, hingga pembinaan keahlian lainnya yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Era muslimah hanya menjadi objek gosip sudah berakhir. Kini saatnya kita mandiri, menopang kehidupan sendiri, bahkan jika diberi rezeki lebih, membantu keluarga dan masyarakat,” ujar Aisyah penuh semangat.
Ia menekankan pentingnya muslimah menjadi sosok religius sekaligus kreatif, inovatif, dan berintegritas. “Jangan habiskan waktu dengan hal sia-sia. Dengan berpikir positif, lahirlah karya positif yang membentuk karakter muslimah sejati,” tambahnya.
Deklarasi yang lahir di Masjid Raya Bandung ini tidak hanya ditujukan untuk kalangan lokal. Aisyah bersama timnya menegaskan bahwa gerakan ini akan dibawa hingga ke level nasional, dengan semangat persatuan dari Sabang sampai Merauke.
“Muslimah Indonesia Berkarya adalah solusi untuk melahirkan generasi perempuan yang religius, mandiri, dan berdaya. Kami ingin setiap muslimah di negeri ini menyadari potensi dirinya, lalu menyalurkan bakat dan karyanya demi kemajuan bangsa,” tegasnya.
Deklarasi Muslimah Indonesia Berkarya menjadi simbol kebangkitan peran perempuan di tengah tantangan zaman. Ia bukan sekadar ruang pengembangan diri, melainkan sebuah gerakan yang mengingatkan betapa pentingnya perempuan dalam menentukan arah bangsa.
Kisah inspiratif Aisyah sebagai mualaf yang teguh, ditambah dukungan tokoh nasional dan pengurus Masjid Raya Bandung, menjadikan deklarasi ini semakin bermakna. Kehadiran tokoh militer, masyarakat, hingga jamaah perempuan memperlihatkan bahwa gerakan ini diterima lintas kalangan.
