KESATU.CO – Angkatan Muda Siliwangi (AMS) menata langkah organisasi menjelang Kongres XI yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026. Forum Rapat Pimpinan Paripurna Pengurus Pusat yang digelar di Bandung, Rabu (11/2/2026), menjadi momentum konsolidasi internal sekaligus penegasan arah pengabdian organisasi ke depan.
Dalam rapat tersebut, pengurus pusat resmi menetapkan Kabupaten Karawang sebagai lokasi pelaksanaan Kongres XI dengan target waktu 12 Juni 2026. Penetapan ini dilakukan sebagai bagian dari pemenuhan amanah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi yang mengatur siklus kepemimpinan.
Dewan Penasehat Pengurus Pusat AMS, Muhammad Ari Mulya Subbagja Husein, menegaskan bahwa pelaksanaan kongres diupayakan berjalan tepat waktu sebagai bentuk komitmen terhadap tata kelola organisasi yang tertib. Menurut dia, kongres bukan sekadar agenda suksesi kepengurusan, tetapi juga ruang evaluasi menyeluruh atas program kerja yang telah berjalan.
“Kongres ini adalah amanah organisasi. Kami ingin pelaksanaannya tepat waktu dan mampu melahirkan kepengurusan baru yang lebih solid serta program kerja yang semakin relevan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menjelang kongres, AMS memfokuskan perhatian pada dua agenda besar, yakni penguatan internal organisasi dan pengembangan program kemasyarakatan. Dari sisi internal, konsolidasi struktur kepengurusan di berbagai daerah hampir rampung, meski masih ada sejumlah wilayah yang memerlukan penyesuaian karena masa bakti pengurus yang berakhir.
Sementara itu, pada ranah eksternal, AMS menempatkan pembangunan desa dan sektor pertanian sebagai prioritas utama. Organisasi ini berupaya memperkuat peran sebagai mitra pendamping masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Pendampingan dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan yang menyasar petani dan komunitas desa.
Baca Juga: Pemkot Bandung Imbau Warga Waspada Modus Peretasan Kontak Hotel di Google
Ari menyebut pendekatan tersebut merupakan kelanjutan dari program yang telah dijalankan sebelumnya. Pada tahun lalu, AMS terlibat dalam sejumlah kegiatan kemasyarakatan, terutama di sektor pertanian, yang hingga kini masih berjalan. Program-program itu dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan peran organisasi di tengah masyarakat.
“Ke depan, program eksternal yang berkaitan dengan pembangunan desa dan pertanian masih akan menjadi fokus utama. Kami ingin kehadiran organisasi ini dirasakan secara nyata oleh masyarakat,” katanya.
Selain menyiapkan regenerasi kepemimpinan, AMS juga menaruh perhatian pada kualitas program kerja. Kongres XI diharapkan tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan gagasan dan inisiatif yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan.
Bagi AMS, keberhasilan organisasi tidak semata diukur dari tertib administrasi atau kelancaran agenda internal. Lebih dari itu, ukuran keberhasilan terletak pada seberapa besar kontribusi organisasi terhadap pembangunan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Harapan tersebut menjadi pijakan dalam menyusun agenda kongres. AMS ingin memastikan bahwa setiap program yang dirancang memiliki dampak nyata dan berkelanjutan. Dengan demikian, organisasi dapat terus menjaga relevansi di tengah dinamika masyarakat.
Menjelang Kongres XI, AMS berupaya menegaskan identitasnya sebagai organisasi kepemudaan yang berakar pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap kebutuhan zaman. Karawang, sebagai lokasi kongres, dipandang bukan hanya tempat pelaksanaan agenda organisasi, melainkan juga simbol komitmen untuk memperkuat arah pengabdian yang lebih konkret dan menyentuh masyarakat luas.
