KESATU.CO – Sebuah dapur umum di Bandung menjadi saksi bagaimana program gizi nasional bisa dikaitkan langsung dengan isu lingkungan. Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, dan Komandan Lanud Husein Sastranegara, Kolonel Nav Md. Irman Fathurrahman, turun langsung meninjau Satuan Posyandu Gizi (SPPG) nomor 3 dan 4 di kawasan Cicendo dan Lanud Husein. Kunjungan itu memberi gambaran bahwa dapur sederhana bisa menjadi pintu masuk menuju perubahan besar: anak-anak yang lebih sehat sekaligus lingkungan yang lebih terjaga.
Diaz Hendropriyono tidak sekadar hadir untuk memberi dukungan moral. Ia menekankan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup siap ikut memastikan dapur umum tidak hanya memberi makanan bergizi, tetapi juga dikelola dengan prinsip ramah lingkungan. “Kami mendukung program Presiden dan siap membuka pintu kolaborasi dengan SPPG-SPPG di seluruh Indonesia. Salah satunya dengan memberikan komposter agar pengelolaan sampah lebih tertata,” ujarnya.
Di dapur SPPG itu, Diaz melihat langsung bagaimana sisa makanan sudah mulai dipilah. Ada penangkap sisa makanan yang bekerja berlapis, menghasilkan air buangan yang lebih bersih. “Saya apresiasi kawan-kawan di sini karena tanpa petunjuk teknis pun sudah mulai mengelola sampah organik. Kalau sudah dimilah, tinggal dimasukkan ke komposter, didiamkan, dan air lindinya bisa dipakai untuk menyiram tanaman,” katanya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah ingin menanamkan kebiasaan sederhana namun berdaya guna besar. Dengan langkah ini, limbah dapur tidak lagi jadi masalah, melainkan menjadi sumber daya baru yang bisa menghidupi kembali lingkungan. Diaz juga memberi sinyal bahwa kementerian siap memberikan pendampingan lebih lanjut. “Yang jelas kami siap membantu, siap memberikan pendampingan. Apapun bentuk kolaborasinya, kami terbuka,” tambahnya.
Dari sisi pemerintah kota, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menggarisbawahi pentingnya pemerataan manfaat program gizi. Ia mencontohkan distribusi Makanan Bergizi (MBG) yang kini sudah menjangkau lebih luas. “Tadi saya sudah lihat ke beberapa RW di Kecamatan Andir. MBG ternyata memang sudah diberikan di Kota Bandung untuk warga, khususnya ibu hamil dan menyusui. Itu sudah mulai didistribusikan, tidak hanya untuk sekolah. Jadi distribusinya sudah lebih merata,” ujarnya. Farhan menambahkan bahwa Kota Bandung tinggal menunggu kelanjutan agar penerima manfaat bisa semakin banyak.
Sementara itu, dari sisi aparat pertahanan, Komandan Lanud Husein Sastranegara, Kolonel Nav Md. Irman Fathurrahman, menekankan pentingnya kualitas. Ia memastikan bahwa setiap makanan yang sampai ke warga harus sesuai standar kesehatan. “Kami mendukung program pemerintah dalam gizi nasional ini, memastikan makanan diterima dalam keadaan bersih, segar, sehingga tidak ada lagi nilai kurang gizi untuk masyarakat,” tegasnya.
Kunjungan tiga tokoh ini memperlihatkan pola kolaborasi baru. Pemerintah pusat membawa dukungan kebijakan dan perangkat teknis, pemerintah kota menjamin distribusi manfaat lebih merata, dan aparat militer memastikan kualitas terjaga. Kolaborasi semacam ini jarang terlihat dalam program gizi masyarakat. Biasanya isu gizi berjalan sendiri, isu lingkungan pun sibuk dengan agenda masing-masing. Kali ini, keduanya justru dipadukan dalam satu ruang dapur.
Dari dapur sederhana di Cicendo dan Lanud Husein, lahir gambaran tentang masa depan: program gizi bisa sekaligus melahirkan kesadaran lingkungan. Jika model ini bisa diperluas ke dapur-dapur lain, bukan tidak mungkin Indonesia akan punya resep baru untuk melawan gizi buruk sekaligus mengurangi timbunan sampah organik.
Bandung sekali lagi memberi pelajaran. Bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari ruang yang sederhana. Dari panci-panci yang menanak nasi untuk ribuan warga, dari ember-ember komposter yang mengolah sisa makanan, hingga dari komitmen para pemimpin yang turun langsung ke lapangan. Gizi dan lingkungan, dua isu yang selama ini berjalan paralel, akhirnya dipertemukan di satu meja makan.
