KESATU.CO – Prodi Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan kegiatan pengabdian Masyarakat yang diberi tema, peningkatan pemahaman fikih ibadah bersama warga Shelter KJRI Jeddah.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Pengabdian Masyarakat Internasional untuk Penguatan Literasi Beragama di Masyarakat.
Sebelumnya, kegiatan sejenis dilakukan di Yalla, Thailand diawal 2024 dengan kegiatan pada peningkatan rasa percaya diri sebagai bagian dari pemahaman ajaran Islam. Kegiatan ini menargetkan para remaja muslim Yalla dengan usia 8-12 tahun yang masih dalam masa krisis identitas, untuk bisa mengenali dirinya lebih baik hingga mampu berkontribusi lebih baik di Masyarakat.
Baca Juga: Bawaslu Pastikan Pengiriman Surat Suara Aman
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 22 Oktober 2024, Jam 10.00. Acara dimulai dengan sambutan dari KPW KJRI Jeddah, Neni Kurniati yang menyampaikan akan pentingnya Fikih Ibadah bagi seorang Muslim; dengan pemahaman yang baik, maka seorang muslim akan mampu mengoptimalkan ibadahnya dah menjauhkannya dari Kesia-siaan.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing peserta, yang seluruhnya adalah wanita yang masih malu-malu untuk berbicara. Perkenalan dilakukan dengan menyebutkan nama disertai dengan satu sifat positif yang diambil dari satu huruf dari Namanya. Selain untuk membuat peserta mau mengenalkan dirinya, juga dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Hal ini membuat suasana cukup kondusif, karena peserta tampak malu-malu untuk menentukan sifat positif yang dipikirkannya walau akhirnya hal tersebut terucap dan membuat mereka lebih rileks dan lebih optimis.
Baca Juga: Serap Aspirasi Petani di Kota Banjar, Barisan Relawan Dedi-Erwan Berkunjung Sambil Bersilahturahmi
Sementara itu, dosen PAI FIS UNJ, Dr. Sari Narulita sebagai narasumber menyampaikan materi tentang Fikih Ibadah yang diawali dengan bahasan terkait Thaharah atau bersuci.
Dalam paparannya, bersuci menjadi satu bahasan penting, karena bersuci adalah pintu masuk menuju ibadah. “Tanpa bersuci, maka tidak sah ibadah seorang muslim. Paparan dimulai dengan definisi bersuci, yakni bersih dari Najis dan hadas,” katanya memaparkan.
Lalu, dia juga meminta peserta untuk bisa menyebutkan contoh Najis yang harus dibersihkan. Peserta kegiatan sangat antusias menyebutkan contoh-contoh Najis yang biasa ditemuinya dalam keseharian.
Baca Juga: Hati-hati Tertipu! Ini Ciri-ciri Penipuan Undian Berhadiah Palsu yang Mengaku dari BRI
Selanjutnya dia pun menjelaskan tentang Hadas, yang merupakan kondisi tubuh yang tidak suci karena suatu hal dan contoh-contohnya.
“Dimana Najis bisa dibersihkan dengan apapun selama najisnya hilang, namun hadas hanya bisa disucikan dengan air mutlak, air yang suci dan mensucikan. Dalam paparan pun dijelaskan jenis-jenis air yang masuk dalam klaster air mutlak,” ucapnya memaparkan jawaban dari peserta. ***
