KESATU.CO – Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Purwakarta 2024 membawa dinamika politik yang menarik.
Sejumlah pengurus dan kader Nahdlatul Ulama (NU) secara terbuka menyatakan dukungan terhadap pasangan calon Yadi Rusmayandi dan Pipin Sopian, yang didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Persatuan Islam (Persis).
Dukungan ini cukup mengejutkan mengingat Purwakarta adalah daerah dengan basis kuat Nahdliyyin, yang biasanya cenderung menginginkan kader NU sendiri sebagai pemimpin.
Spekulasi beredar bahwa ini adalah langkah tersembunyi untuk menggeser dominasi NU di daerah tersebut. Jika Yadi dan Pipin menang, pengaruh NU bisa melemah, digantikan oleh aliran politik dari PKS dan Persis.
Apakah ini strategi besar atau hanya kebetulan politik? Warga Nahdliyyin kini harus berpikir, apakah mereka benar-benar mendukung atau justru sedang digiring menuju rencana besar yang bisa mengubah peta kekuatan politik di Purwakarta.
Opini ini luntur dengan sendirinya, tanpa di jawab dengan kata kata, tatkala kader NU di tuding hanya men dukung pasangan 02, yadi – pipin, yang di diusung oleh Nasdem dan PKS, maka di tengah terpaan isu miring kepada PCNU Purwakarta soal NU berkolaborasi dengan PKS.
Maka tanpa di duga ketua PCNU Purwakarta hadir dalam acara ALJATA, yang diselenggarakan di Harper 12 November 2024, apa alasannya ia hadir?
Mungkin bisa saja membiaskan isu yang mengarah bahwa NU berkonspirasi dengan PKS, setidaknya kalau ia hadir di acara Aljata itu memberi sinyal kepada publik bahwa NU ada dimana mana, ini adalah sebagai bentuk kepiawaian ketua PCNU Purwakarta, dalam menyikapi dinamika politik menghadapi Pilkada 2024.
Baca Juga: Pasangan ZeinJo Unggul di Survei Indikator, Elektabilitas Capai 58,96 Persen di Purwakarta
Ketua PCNU Purwakarta, KH. Ahmad Anwar Nasihin menegaskan bahwa kehadirannya bukanlah bentuk dukungan kepada calon tertentu, tetapi sebagai penghormatan kepada para ulama yang mengundang.
“Saya akan hadir manakala saya di undang oleh calon manapun, saya harus berlaku adil terhadap calon bupati dan wakil bupati yang mengundang saya, apalagi mereka semua kader dan pengurus NU” ujar KH. Ahmad Anwar Nasihin, Rabu (13/11/2024).
Ia menjelaskan bahwa kehadirannya sebatas menghormati yang mengundang, tanpa terlibat dalam deklarasi maupun kegiatan politik yang bersifat kampanye.
Semua undangan dari pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati ia hadiri semua, dan baru pertama kali ia menghadiri kegiatan yang dilaksanakan oleh ALJATA yang merefresentasikan pendukung 01.
Perlu di ketahui Ketua PCNU di undang oleh Aliansi Ajengan Purwakarta dalam acara pembukaan Halaqoh dan Bahtsul masa’il,
“Saya tidak ikut bahtsul masail apalagi deklarasi, setelah selesai pembukaan saya pulang, saya hanya menghormati yang mengundang, yang koordinatornya Habib Abdullah, ungkapnya.
Ketua PCNU juga menyatakan bahwa NU bukan milik kelompok tertentu atau partai politik manapun, melainkan milik seluruh masyarakat Purwakarta.
Ia menyerukan kepada seluruh calon untuk meraih dukungan warga Nahdliyyin dengan cara yang positif dan sesuai dengan prinsip masing-masing.
“NU ini milik semua masyarakat, bahkan milik semua calon, silahkan raih suara warga nahdliyyin di purwakarta, dengan cara dan metode masing masing,” tegasnya.
Baca Juga: Gerak Cepat, Kapolres Sukabumi Kota Langsung Bantu Korban Bencana
Menanggapi tudingan adanya konspirasi politik antara NU dengan PKS dan Persis, Ketua PCNU menegaskan bahwa NU memiliki jalur dan aturan organisasi yang tidak dapat disamakan dengan ormas lain.
“Saya tidak mau menanggapi persoalan fitnah bahwa NU melakukan konspirasi politik dengan PKS dan Persis, intinya NU punya jalur dan alur masing masing yang tidak bisa disatukan rel nya dengan ormas lain, kita punya aturan masing masing,” tutup Ajengan Anwar Nasihin.
Klarifikasi ini diharapkan mampu meredakan spekulasi yang beredar, serta memberi pemahaman bagi warga Nahdliyyin untuk menentukan pilihan berdasarkan penilaian objektif, tanpa dipengaruhi isu-isu politik yang memecah belah. ***
