KESATU.CO – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat segera merealisasikan penanganan hutan rusak di Jabar mulai Desember 2025.
Langkah taktis ini diambil guna menekan potensi bencana alam yang kerap mengancam wilayah tersebut akibat degradasi lahan yang masif.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan urgensi program ini usai menghadiri Peresmian CSR Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di Kampung Adat Cipta Rasa, Desa Sirnarasa, Kabupaten Sukabumi, Senin (1/12/2025).
Baca Juga: Dedi Mulyadi Resmikan PLTMH Sukabumi: 2027 Listrik Jabar Tuntas!
Menurutnya, kondisi ekologis Jawa Barat saat ini berada dalam taraf yang mengkhawatirkan.
“Jawa Barat kondisi hutan yang betul-betul masih hutan kan 20 persen lagi. 80 persen kan dalam keadaan rusak,” tegas KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, terkait alasan percepatan penanganan hutan rusak di Jabar tersebut.
Strategi pemulihan ekosistem ini akan dilakukan secara bertahap namun intensif. Pemda Jabar tidak hanya berfokus pada penanaman pohon semata, melainkan memastikan perawatan yang optimal hingga tanaman tumbuh kokoh.
Untuk menjamin keberhasilan ini, pemerintah akan melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Dalam skema penanganan hutan rusak di Jabar ini, setiap satu hektare lahan kritis akan dikelola oleh dua orang warga setempat.
Mereka diberikan tanggung jawab penuh mulai dari menanam hingga merawat pohon. Sebagai kompensasi, KDM menetapkan standar upah yang kompetitif untuk menarik minat warga.
Baca Juga: Five Nations Stamp Exhibition 2025: Ajang Kualifikasi Dunia Sekaligus Sarana Edukasi Budaya Filateli
“Mereka mendapat upah dalam setiap hari distandarkan oleh saya, Rp50 ribu. Itu lebih mahal dibanding upah nyangkul di daerah tertentu yang hanya Rp30 ribu. Kenapa harganya Rp50 ribu? Agar banyak rakyat yang dilibatkan,” ujar KDM merinci insentif bagi warga.
Pemilihan vegetasi dalam program ini juga telah diperhitungkan secara matang. Jenis pohon yang akan ditanam merupakan kombinasi antara fungsi konservasi dan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Varietasnya mulai dari pohon beringin untuk penguatan tanah, hingga tanaman produktif seperti nangka, pete, dan jengkol.
KDM berharap perpaduan jenis tanaman ini dapat memberikan dampak ganda. Selain memulihkan fungsi ekologis hutan yang tidak boleh ditebang, masyarakat juga bisa menikmati hasil panen buah-buahan tersebut dalam jangka panjang sebagai sumber ekonomi baru yang berkelanjutan.***
