KESATU.CO – Upaya memperkuat ketahanan pangan daerah membutuhkan lebih dari sekadar kerja rutin sektor pertanian. Di tengah tantangan bonus demografi, rendahnya literasi teknologi pertanian, serta kebutuhan peningkatan produktivitas lahan, kolaborasi riset vokasi dengan pemerintah daerah semakin menemukan relevansinya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian yang melibatkan tim Politeknik Negeri Bandung (Polban), juga dari Maha Penggiri yang diketuai oleh Rida Hudaya, dosen Teknik Elektro Polban yang berhasil mengembangkan pemantauan udara menggunakan drone untuk area pertanian yang lebih luas. Tambahan lagi, hadir pengurus Pesantren Rasana Rasyidah Garut, perwakilan sekolah vokasi IPB University, serta Pemerintah Kabupaten Garut yang diwakili oleh Bappeda Garut.
Kegiatan ini menjadi momentum memperlihatkan bagaimana pendidikan vokasi, riset terapan, dan kebutuhan nyata masyarakat desa dapat bertemu dalam satu ruang kerja yang terkoordinasi. Berbagai pemangku kepentingan hadir, mulai dari peneliti, aparatur desa, petani, Koperasi hingga jajaran pemerintah kecamatan.
Teknologi Pertanian Jadi Prioritas Pembangunan Daerah
Perwakilan Bappeda Garut, Alfian Isnan, menegaskan bahwa teknologi kini menjadi pilar penting dalam peningkatan produktivitas pertanian. Berbagai teknologi modular telah diuji di beberapa titik wilayah studi, termasuk perangkat untuk pemetaan dan capture area.
“Program prioritas kami adalah meningkatkan indeks pertanaman, kualitas, dan produksi. Dengan pelibatan teknologi, harapannya hasil pertanian bisa meningkat dan aplikasinya semakin kuat di lapangan,” ujar Alfian, Selasa (26/11/2025).
Ia menambahkan bahwa hasil penelitian ini sangat mungkin diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah. Dengan potensi bonus demografi—di mana 60 persen penduduk Garut berada pada usia produktif—pemerintah berkomitmen menyiapkan SDM yang cakap teknologi.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi teknologi dapat benar-benar diterapkan tahun depan melalui perangkat daerah terkait. SDM muda harus dilatih agar mampu menjalankan teknologi ini,” tambahnya.
Polban: Riset Harus Menyentuh Masyarakat Paling Dekat
Ketua tim peneliti, Rida Hudaya, D.U.Tech., S.T., DEA, menjelaskan bahwa riset vokasi harus dekat dengan masyarakat dan berorientasi penyelesaian masalah nyata.
Menurutnya, perangkat teknologi dalam penelitian ini tidak hanya diuji di tingkat laboratorium, melainkan langsung diimplementasikan di lingkungan petani, sekolah, dan komunitas desa.
“Kegiatan sosialisasi kemarin menghadirkan para petani, perangkat desa, sampai RW. Mereka berdiskusi langsung tentang bagaimana teknologi ini bisa digunakan di lahan mereka,” ujarnya.
Rida menegaskan bahwa pendekatan partisipatif ini sangat penting agar masyarakat “memiliki” teknologi tersebut, bukan sekadar menjadi penerima.
Tambahan juga dari perwakilan sekolah vokasi IPB University, Doni, mengingatkan kembali bahwa riset ini berakar dari kebutuhan mendesak untuk menguatkan pendidikan vokasi. Penelitian telah berjalan sejak 2023, ketika pendidikan vokasi masih berada di bawah kementerian yang belum terpecah seperti saat ini.
Ia mengungkap bahwa berdasarkan data awal, lulusan pendidikan vokasi menyumbang angka pengangguran cukup tinggi, sehingga perlu solusi berbasis potensi daerah.
“Pendidikan vokasi tidak boleh menjadi pilihan kedua. Karena itu penelitian ini memetakan kebutuhan daerah dan merangkai para pemangku kepentingan agar saling terkait. Pada akhirnya, yang diuntungkan adalah siswa-siswa kita,” jelas Doni.
Baca Juga: Kinerja Keuangan Jabar Tetap Stabil, OJK Dorong Pertumbuhan Kredit dan Literasi Masyarakat
Program “Penelitian Berdikari” hadir sebagai jawaban agar riset vokasi mampu menghasilkan manfaat riil di daerah.
Dari sisi pemerintah kecamatan, Camat Sumber Resmi, Hj. Iis Rahmawati, S.STP., M.AK, menilai bahwa masyarakat melihat dampak langsung dari teknologi pertanian yang diperkenalkan peneliti.
“Selama ini kami menggunakan cara-cara lama. Dengan alat yang dikenalkan, kami bisa mengevaluasi bagaimana meningkatkan intensifikasi pertanian,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program ini memberi inspirasi untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat dan membangun kerja sama antara pemerintah desa, kecamatan, dan perguruan tinggi.
“Hasil penelitian ini harus diuji langsung. Kami optimistis manfaatnya nyata, tetapi tetap perlu penerapan di lapangan. Kami sudah berbicara dengan para profesor untuk menindaklanjuti tahap berikutnya,” katanya.
Kolaborasi Vokasi–Daerah, Masa Depan Ketahanan Pangan
Rangkaian diseminasi ini menegaskan bahwa sinergi antara kampus vokasi, pemerintah daerah, dan komunitas petani merupakan fondasi penting dalam menghadapi dinamika pertanian masa depan. Dari teknologi pemetaan lahan hingga manajemen produktivitas, penelitian terapan terbukti mampu menjembatani kebutuhan nyata masyarakat dengan inovasi akademik.
Melalui kolaborasi berkelanjutan, Kabupaten Garut memiliki peluang besar mengembangkan pertanian yang lebih cerdas, inklusif, dan relevan bagi generasi muda—sekaligus menciptakan model sinergi vokasi dan pembangunan daerah yang dapat ditiru wilayah lain.
