KESATU.CO – Minat masyarakat untuk terjun ke dunia kuliner, khususnya pastry, terus meningkat. Namun, tidak sedikit yang masih ragu untuk memulai karena merasa tidak memiliki latar belakang yang sesuai. Melihat kondisi tersebut, Lembaga Pelatihan Kerja (LPT) Panghegar Bandung menghadirkan program pendidikan pastry berjenjang yang dirancang untuk pemula hingga tingkat mahir.
Instruktur pastry, Chef Siska Andriani, menjelaskan bahwa sistem pembelajaran di LPT Panghegar disusun secara bertahap agar peserta dapat memahami dasar secara menyeluruh sebelum naik ke level berikutnya. “Di sini mereka belajar dari awal, ada tahap dasar, lanjutan, hingga mahir. Di tahap dasar diharapkan peserta benar-benar menguasai, supaya saat naik level mereka lebih mudah berinovasi,” ujar Siska.
Menurutnya, pembelajaran tidak hanya berfokus pada resep, tetapi juga mencakup pengetahuan bahan, alat, serta teknik yang presisi. Ia menegaskan bahwa pastry bukan bidang yang bisa dipelajari secara instan. “Pastry itu harus serba dihitung dan ditimbang. Jadi memang perlu ketelitian sejak awal,” katanya.
Siska juga mengungkapkan, tantangan terbesar biasanya datang dari peserta yang tidak memiliki latar belakang pastry. Oleh karena itu, pengenalan dasar menjadi kunci penting dalam proses pembelajaran. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman umum untuk mengetahui apakah bidang pastry sesuai dengan minat dan bakat mereka.
Menariknya, pelatihan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membekali peserta dengan wawasan bisnis. “Kami juga ajarkan dasar-dasar pemasaran dan bagaimana memulai usaha, terutama bagi yang ingin menjadikan pastry sebagai peluang bisnis,” jelasnya.
Program pelatihan dasar berlangsung selama 10 hari, dilengkapi dengan evaluasi dan tes di akhir sesi. Evaluasi tersebut mencakup penilaian terhadap hasil praktik peserta, termasuk kelebihan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Siska menambahkan, faktor ketidaklulusan umumnya disebabkan oleh kurangnya kedisiplinan peserta dalam mengikuti materi, baik teori maupun praktik.
LPT Panghegar sendiri memberikan sertifikat kepada peserta yang lulus, yang dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi mereka yang ingin bekerja di industri kuliner. “Selain dapat buku resep, peserta juga mendapat sertifikat yang bisa digunakan untuk melamar kerja atau membuka usaha,” ujarnya.
Baca Juga: Gencarkan Operasi Parkir Liar, Dishub Tertibkan Puluhan Kendaraan
Salah satu peserta, Meiriani Amzir dari Sorong, Papua, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan ini. Ia yang memiliki usaha kafe ingin memperluas menu dengan produk pastry. “Ternyata produk pastry itu banyak sekali. Di sini saya jadi tahu dan bisa diterapkan di kafe saya,” katanya.
Hal senada disampaikan Gregory Biuti, peserta asal Yogyakarta yang sebelumnya belajar secara otodidak. Ia merasa pembelajaran langsung di kelas memberikan pengalaman berbeda. “Di sini benar-benar praktik langsung, bahkan sehari bisa bikin beberapa jenis kue. Ini sangat membantu saya untuk naik level,” ungkapnya.
Baik Siska maupun para peserta sepakat bahwa siapa pun bisa belajar pastry selama memiliki kemauan. “Jangan takut untuk mulai, tidak ada kata terlambat untuk belajar,” pungkas Gregory.
Dengan pendekatan pembelajaran yang terstruktur dan aplikatif, LPT Panghegar Bandung menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin serius menekuni dunia pastry, baik sebagai hobi maupun peluang usaha.
