KESATU.CO – BANDUNG, Dalam beberapa waktu terakhir, banyak pakar menilai perkembangan ekonomi global masih mengalami ketidakpastian.
Tentu saja, apabila hal itu memang terjadi, bisa berpengaruh pada perekonomian berbagai negara. Walau demikian, Indonesia tetap mencatat kinerja ekspor yang positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), apda Juni 2024, Indonesia membukukan ekspor bernilai fantastis. Angkanya mencapai 20,84 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp337,24 triliun.
Dalam keterangannya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengemukakan, sektor manufaktur berkontribusi positif pada kinerja ekspor periode Juni 2024, yaitu 16,05 miliar dolar AS atau setara Rp259,67 triliun.
“Secara kumulatif, selama Januari-Juni 2025, nilai ekspor manufaktur nasional yaitu 91,65 miliar dolar AS atau Rp1.482,81 triliun,” kata Amalia Adininggar Widyasanti.
Artinya, jelas Amalia Adininggar Widyasanti, manufaktur berkontribusi pada kinerja ekspor nasional selama semester awal tahun ini sebesar 73,27 persen
Komoditas ekspor manufaktur, ucap Amalia Adininggar Widyasanti, yakni bahan bakar mineral, serta lemak-minyak hewan. Lalu, tuturnya, besi-baja, mesin beserta perlengkapan elektrik.
Berikutnya, adalah kendaraan serta nikel dan turunannya. “Termasuk logam mulia, alas kaki, mesin, dan produk olahan kimia,” sahutnya.
Baca Juga: Digital safety 101 : Dasar Keamanan akun media sosial
Bicara soal penjualan berbagai produk apda level global, Amalia Adininggar Widyasanti, secara tahunan, menggeliat 1,17 persen.
Satu enyumbangnya, sambung Amalia Adininggar Widyasanti, yaitu ekspor komoditas non-minyak gas bumi (migas) yang angkanya 19,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp317, 28 triliun.
Selain itu, lanjut dia, juga ditopang ekspor migas yang nominalnya 1,2 miliar dolar AS atau setara dengan Rp19,41 triliun.
Tidak hanya manufaktur, tambah Amalia Adininggar Widyasanti, beberapa sektor ekonomi lainnya pun turut berkontribusi pada kinerja ekspor nasional.
Antara lain, ucap dia, sektor agro seperti kehutanan, pertanian, dan perikanan. Nominalnya, 394,2 juta dolar AS,AS atau sebanding dengan Rp6,37 triliun.
Kemudian, imbuhnya, pertambangan yang menyumbang ekspor bernilai 3,16 miliar dolar AS atau setara dengan Rp51,12 triliun.
Mengenai negara mana yang merupakan pasar ekspor terakbar bagi Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti menyebut tiga nama, yakni China, AS, dan India.
“Nilainya masing-masing 4,65 miliar dolar AS atau Rp 75,22 triliuntriliu, 1,97 miliar dolar AS, atau sekitar Rp31,86 triliun, dan 1,84 miliar dolar AS yang apabila ternominalkan dalam rupiah sebesar Rp29,76 triliun,” pungkas Amalia Adininggar Widyasanti. (*)
