KESATU.CO – Profesi chef kini bukan sekadar keterampilan memasak, tetapi juga mencerminkan profesionalisme, kepemimpinan, dan kemampuan mengelola tim dengan efektif. Hal ini disampaikan oleh Chef Edi Santoso, pemateri sekaligus asesor kuliner, dalam sesi pembekalan Chef de Partie (CDP) pada pelatihan yang digelar oleh Koperasi Aksi Sejahtera Mandiri (ASMI) di Bandung, Sabtu (15/11/2025)
Dalam paparannya, Edi menekankan bahwa peran seorang CDP menuntut kemampuan teknis sekaligus kemampuan manajerial. Komunikasi yang jelas, pembagian tugas yang tepat, kedisiplinan, serta keteladanan menjadi fondasi utama yang harus dimiliki seorang chef profesional.
“Komunikasi harus jelas dan langsung pada inti. Instruksi di dapur itu tidak boleh bertele-tele. Sampaikan secara singkat, padat, dan mudah dipahami,” ujar Edi.
Menurutnya, banyak chef pemula yang kesulitan bukan karena tidak bisa memasak, tetapi karena tidak mampu berkomunikasi secara efektif dengan tim. Dapur menuntut kecepatan dan ketepatan, sehingga setiap instruksi harus diucapkan secara lugas dan demonstratif.
“Kalau ada anggota tim yang belum paham, jangan hanya dijelaskan panjang lebar. Langsung contohkan. Itu jauh lebih efektif,” katanya.
Selain komunikasi, pembagian tugas berdasarkan kemampuan adalah kunci menjaga dapur tetap berjalan efisien. Edi menekankan bahwa setiap anggota tim perlu diberi kesempatan berkembang melalui rotasi pekerjaan.
“Pembagian tugas itu perlu dikembangkan, tidak instan. Setelah sebulan, tim harus di-rolling. Yang biasa menggoreng pindah ke kompos, yang di pastry pindah ke lini lain. Tujuannya agar semua paham alur dapur dari hulu ke hilir,” jelasnya.
Ia menilai bahwa sistem rotasi tidak hanya memperkuat keterampilan anggota tim, tetapi juga meningkatkan ketangguhan dapur saat menghadapi situasi darurat.
Disiplin dan Keteladanan: Jiwa Seorang Chef
Edi juga menyoroti pentingnya sikap disiplin dan keteladanan seorang CDP. Menurutnya, chef adalah figur panutan dalam dapur. Penampilan, etos kerja, hingga ketepatan waktu menjadi bagian penting dari profesionalisme.
“Chef itu harus jadi contoh. Datang lebih awal dari staf lain. Jaga kebersihan, jaga penampilan. Pemimpin itu dinilai dari performanya,” tegas Edi.
Ia menambahkan bahwa kepercayaan diri juga menjadi modal penting. Chef bersertifikat harus mampu menunjukkan kualitasnya, bukan hanya dalam teknik memasak tetapi juga dalam memimpin tim.
Dalam sesi tersebut, Edi juga menyinggung pengalaman di lapangan, termasuk bekerja dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menekankan bahwa industri ini memerlukan chef yang benar-benar kompeten dan mampu mengelola dapur dalam skala besar.
“Chef itu bukan sekadar memasak. Mereka mengelola sistem. Kalau sudah punya sertifikat CDP, harus lebih percaya diri dan siap memimpin,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa profesionalisme dalam dapur turut menentukan kelancaran operasional, termasuk kepercayaan pihak mitra dan kelancaran pembayaran proyek.
Melalui sesi pembelajaran ini, Edi berharap peserta memahami bahwa profesi chef menuntut lebih dari sekadar keahlian kuliner. Dedikasi, kedisiplinan, kepemimpinan, dan keteladanan adalah unsur penting yang akan membentuk calon chef profesional di masa depan.
