KESATU.CO -BANDUNG, Berbagai pola dan skema terus dikembangkan setiap korporasi, tidak terkecuali PT Bank Pembangunan Daerah Jabar-Banten Tbk (Perseroda) alias bank bjb.
Satu caranya, yakni menjadi The Anchor Bank sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) dalam skema Kelompok Usaha Bank (KUB).
Ada beberapa BPD yang sudah resmi termasuk dalam pola KUB bank bjb Antara lain, PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu atau Bank Bengkulu.
Setelah Bank Bengkulu tergabung dalam KUB ada kandidat BPD lainnya yang segera mengikuti jejak Bank Bengkulu, yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jambi atau Bank Jambi.
Hal itu terjadi setelah bank bjb dan Bank Jambi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) berupa penyertaan modal di bjb T-Tower, Jakarta, pada 28 Juni 2024.
Berdasarkan perjanjian itu, bank segera menggelontorkan dana bernilai Rp221,4 miliar sebagai penyertaan modal kepada Bank Jambi.
“Proses ini segera kami ajukan kepada OJK (Otoritas Jasa Keuangan) agar proses bergabungnya Bank Jambi dalam KUB terealisasikan,” Direktur Utama bank bjb, Yuddy Renaldi, dalam keterangannya resminya pada laman bankbjb.co.id.
Yuddy Renaldi mengatakan, terealisasinya kolaborasi dengan Bank Jambi merupakan tindak lanjut hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Jambi pada 20 Februari 2024.
“RUPS Bank Jambi menyatakan persetujuannya untuk bergabung dalam KUB (bank bjb). Putusan RUPS Bank Jambi lainnya menyepakati bank bjb termasuk PSP (Pemegang Saham Pengendali) bersama Pemprov (Pemerintah Provinsi) Jambi,” tandas Yuddy Renaldi.
Baca Juga: Maju Pilkada 2024, DPRD Jawa Barat Imbau ASN Wajib Mundur dari Jabatannya dan Ikuti Aturan
Sebelum penandatanganan, tuturnya, Bank Jambi melalui tahap awal KUB. Yaitu, jelas Yuddy Renaldi, pada 2023, Bank Jambi meneken Memorandum of Understanding (MoU) dan Non-Disclosure Agreement (NDA).
Yuddy Renaldi meneruskan, saat ini, bersama Bank Jambi, menggarap pola transaksi BI Fast. Dia menegaskan, pihaknya siap mengembangkan kolaborasinya pada skema pelayananan lain.
Misalnya, sebut dia, pelayanan bagi pemerintah daerah berupa penerimaan pajak, retribusi, pembiayaan infrastruktur secara sindikasi, dan lainnya termasuk kepada nasabah semisal penerapan sistem digital banking.
Pada sisi lain, Yuddy Renaldi berbicara tentang kinerja Bank Jambi. Secara umum, Bank Jambi menunjukkan performa dan kinerja yang mengalami pergerakan positif.
Hingga Maret 2024, beber Yuddy Renaldi, Bank Jambi punya aset bernilai Rp13,3 triliun itu meraup laba Rp95,5 miliar.
Penyaluran pembiayaannya turut menggeliat, yakni bernominal Rp9,4 triliun. Tidak itu saja, tambah Yuddy Renaldi, pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh Bank Jambi yang pada 2023 menyetorkan dividen bernilai Rp137,5 miliar, pun moncer. Angkanya Rp10,9 triliun. (*)
