KESATU.CO – Dalam sebuah acara kebudayaan yang digelar pengurus Kebun Binatang Bandung bersama sejumlah tokoh seni Jawa Barat, Mayjen (Purn.) Saurip Kadi menyampaikan pesan yang menohok tentang kondisi moral dan arah perjalanan bangsa. Di hadapan para undangan, ia mengingatkan bahwa krisis terbesar yang dihadapi Indonesia hari ini bukan hanya ekonomi atau politik, melainkan krisis hati nurani.
“Negara ini berdiri karena cita-cita luhur: melindungi rakyat dan menyejahterakan mereka,” ujarnya dengan nada tenang tapi tegas. “Namun, yang kita saksikan hari ini justru sebaliknya. Banyak kebijakan yang jauh dari semangat itu, bahkan seolah menjadikan rakyat sebagai lawan.” Sabtu (25/10/2025).
Pensiunan jenderal yang dikenal vokal terhadap persoalan sosial ini menekankan, kepemimpinan nasional seharusnya tidak diukur dari kekuasaan atau popularitas, tetapi dari kejujuran dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Ia menilai, bangsa Indonesia mulai kehilangan orientasi moral karena terlalu lama terjebak dalam budaya transaksional dan politik pencitraan.
“Kita sibuk membangun gedung tinggi, tapi lupa membangun manusia,” kata Saurip. “Padahal kekuatan sebuah bangsa tidak terletak pada tumpukan beton, melainkan pada karakter dan keberanian moral rakyatnya.”
Menurutnya, kondisi sosial saat ini menunjukkan adanya jurang yang makin lebar antara penguasa dan rakyat. Kritik sering dianggap ancaman, dan suara perbedaan justru dibungkam. Padahal, kata dia, kritik sejatinya adalah bentuk cinta terhadap negeri.
“Negara ini tidak akan maju jika terus menutup telinga terhadap rakyatnya sendiri,” tambahnya. “Kita harus berhenti memusuhi rakyat hanya karena mereka berbeda pandangan.”
Dalam kesempatan itu, Saurip juga menyoroti pentingnya kebudayaan dan seni sebagai medium untuk menyatukan kembali bangsa yang mulai retak oleh perbedaan pandangan politik. Ia menilai acara yang digelar di Kebun Binatang Bandung tersebut sebagai contoh nyata bahwa semangat gotong royong dan cinta tanah air masih hidup di tengah masyarakat.
“Kegiatan seperti ini mengingatkan kita bahwa bangsa ini punya akar yang kuat dalam budaya saling menghormati dan bergotong royong. Jangan sampai akar itu dicabut oleh keserakahan dan kepentingan jangka pendek,” ujarnya.
Ia juga mengajak para pemimpin, baik di pemerintahan maupun masyarakat, untuk kembali pada nilai-nilai dasar kemanusiaan dan moralitas publik.
“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar,” katanya. “Yang kita butuhkan adalah orang yang mau berpihak pada kebenaran, meski itu tidak populer.”
Di akhir sambutannya, Saurip Kadi menyampaikan harapannya agar Indonesia mampu keluar dari jebakan konflik sosial dan kembali pada semangat persatuan sebagaimana yang diwariskan para pendiri bangsa.
“Rakyat bukan musuh. Mereka adalah alasan negara ini berdiri,” tuturnya. “Selama kita masih memelihara kejujuran dan rasa kemanusiaan, bangsa ini tidak akan pernah hancur.”
Pesan Saurip sore itu mengalun di antara riuh rendah tawa anak-anak yang bermain di sekitar taman Kebun Binatang Bandung — sederhana, tapi sarat makna. Sebuah pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk zaman, suara hati nurani masih memiliki tempat di panggung kehidupan berbangsa.
