KESATU.CO — Kinerja ekonomi Jawa Barat dinilai masih berada di jalur positif dengan fondasi yang cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi pada 2026. Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat sejumlah catatan penting yang perlu diwaspadai, terutama terkait tekanan inflasi dan perubahan perilaku sektor keuangan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, Darwisman, menyampaikan bahwa struktur ekonomi daerah menunjukkan daya tahan yang solid. Ia bahkan menilai pertumbuhan ekonomi Jawa Barat berpotensi menembus angka di atas 6 persen apabila didukung kebijakan yang tepat.
Menurut Darwisman, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian dengan kontribusi mencapai sekitar 65 persen. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga berkontribusi signifikan sebesar 25 persen dalam struktur pengeluaran.
“Pertumbuhan ekonomi kita yang berada di kisaran 5,1 persen salah satunya didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh cukup tinggi,” ujar Darwisman.
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekonomi Jawa Barat dengan kontribusi sekitar 40 persen. Sektor perdagangan menyusul dengan 14 persen, diikuti konstruksi sebesar 8,5 persen dan pertanian 8,4 persen.
Meski demikian, Darwisman mengingatkan adanya tekanan inflasi yang perlu dikendalikan secara serius. Ia mencatat, tingkat inflasi pada awal 2026 sempat berada di kisaran 4,7 persen, yang berpotensi menggerus daya beli masyarakat jika tidak ditangani dengan tepat.
“Kalau inflasi tidak terkendali, maka daya beli masyarakat akan terpengaruh. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia menilai, langkah pemerintah daerah dalam menjaga daya beli melalui kebijakan proaktif dan optimalisasi belanja daerah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi. Selain itu, peningkatan investasi juga menjadi faktor penting dalam mempercepat pertumbuhan.
Darwisman mengungkapkan, realisasi investasi di Jawa Barat hingga akhir 2025 mencapai hampir Rp280 triliun, bahkan melampaui capaian di DKI Jakarta. Capaian ini menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi daerah.
Di sektor jasa keuangan, kinerja nasional juga menunjukkan tren yang positif. Total pembiayaan dari lembaga jasa keuangan mencapai Rp9.840 triliun, dengan mayoritas berasal dari kredit perbankan.
Pertumbuhan kredit perbankan tercatat sekitar 9,63 persen, mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap bergerak. Selain itu, sektor pembiayaan lain seperti perusahaan multifinance dan modal ventura juga mengalami pertumbuhan, meski dalam skala yang lebih terbatas.
Baca Juga: Ketidakpastian Global Menguat, OJK Jabar Ingatkan Kewaspadaan Ekonomi
Fenomena yang menarik perhatian adalah lonjakan signifikan pada sektor pinjaman daring atau peer-to-peer lending. Secara nasional, pertumbuhannya mencapai 25,4 persen dengan nilai mencapai Rp96,6 triliun.
Di Jawa Barat sendiri, nilai pinjaman daring telah mendekati Rp23 triliun dengan jumlah pengguna mencapai jutaan orang. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku masyarakat dalam mengakses layanan keuangan.
“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perbankan. Kemudahan layanan digital menjadi faktor yang sangat menentukan,” ujar Darwisman.
Ia menambahkan, lembaga keuangan konvensional perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan tersebut.
Dengan berbagai indikator tersebut, Darwisman menilai ekonomi Jawa Barat memiliki prospek yang menjanjikan. Namun, keberhasilan menjaga pertumbuhan tetap bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam mengelola risiko, terutama inflasi dan disrupsi di sektor keuangan.
“Kita punya fondasi yang kuat, tinggal bagaimana menjaganya agar tetap stabil dan berkelanjutan,” kata dia.
