KESATU.CO, PURWAKARTA – Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) pada anak merupakan masalah kesehatan serius yang membutuhkan perhatian khusus dari para orang tua.
Sebagian besar kasus penularan HIV pada anak terjadi dari ibu selama masa kehamilan, proses persalinan, atau melalui pemberian ASI.
Sayangnya, gejala HIV pada anak terkadang sangat mirip dengan penyakit infeksi biasa sehingga kerap tidak disadari dan baru terdeteksi pada stadium lanjut.
Memahami tanda-tanda awal serta langkah deteksi medis sejak dini sangat krusial untuk menyelamatkan masa depan si buah hati.
Dirangkum dari halodoc dan Berbagai Sumber Berikut adalah 8 tanda utama HIV pada anak serta cara mendeteksinya secara medis.
8 Tanda HIV Pada Anak
-
Demam Berulang atau Berkepanjangan Anak sering mengalami demam tinggi atau demam ringan yang datang dan pergi, atau berlangsung terus-menerus selama lebih dari seminggu tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini menunjukkan sistem kekebalan tubuhnya sedang berjuang melawan infeksi.
-
Berat Badan Sulit Bertambah (Gagal Tumbuh / Failure to Thrive) Ini merupakan salah satu tanda yang paling sering terlihat. Grafik pertumbuhan berat badan anak cenderung mendatar atau bahkan menurun drastis, membuat anak tampak sangat kurus, kecil, dan tidak sesuai dengan usianya.
-
Gangguan Tumbuh Kembang Anak mengalami keterlambatan dalam mencapai tahapan perkembangan (developmental milestones), seperti terlambat duduk, berdiri, berjalan, atau berbicara. Pada anak yang lebih besar, kemampuan motorik atau kognitifnya bisa mengalami penurunan yang signifikan.
-
Sering Terkena Infeksi Berulang (Mudah Sakit) Karena sistem kekebalan tubuhnya rusak, anak menjadi sangat rentan terhadap penyakit umum seperti batuk, pilek, diare, atau infeksi telinga. Penyakit-penyakit ini biasanya berulang, parah, dan sulit sembuh meskipun sudah diberi pengobatan standar.
-
Pembengkakan Kelenjar Getah Bening Terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di beberapa bagian tubuh, seperti di leher, ketiak, atau selangkangan. Selain itu, kelenjar parotis (kelenjar ludah di dekat telinga) juga kerap mengalami pembesaran yang tampak jelas.
-
Infeksi Jamur Parah di Mulut dan Tenggorokan (Kandidiasis Oral) Muncul bercak putih tebal atau sariawan yang parah dan meluas di lidah, rongga mulut, hingga ke tenggorokan. Kondisi ini sering kali membuat anak kesakitan saat menelan makanan dan berujung pada hilangnya nafsu makan.
-
Masalah Kulit yang Cepat Meluas Anak rentan mengalami ruam kulit parah, seperti ruam popok yang tak kunjung sembuh, kulit kering bersisik, gatal-gatal hebat (pruritic papular eruption), atau infeksi kulit akibat bakteri dan jamur yang sangat sulit diatasi dengan salep biasa.
-
Infeksi Oportunistik Berat (Pneumonia atau Diare Kronis) Anak dapat terserang penyakit berat akibat lemahnya imun, seperti diare kronis (mencret berminggu-minggu) atau radang paru-paru (pneumonia) yang menyebabkan anak tampak sesak napas, lesu, dan batuk kronis.
Cara Mendeteksi HIV Pada Anak
Karena gejala klinis di atas juga bisa menyerupai penyakit anak lainnya seperti malnutrisi atau infeksi tuberkulosis (TBC), diagnosis pasti tidak bisa hanya didasarkan pada gejala fisik semata.
Langkah-langkah medis untuk mendeteksi HIV pada anak meliputi:
-
Konsultasi dan Anamnesis Riwayat Kesehatan: Dokter akan memeriksa riwayat kesehatan keluarga secara menyeluruh, terutama status kesehatan ibu kandung saat masa kehamilan dan persalinan.
-
Tes Darah / Tes Serologis & Virologis (Skrining HIV):
-
Bagi anak di atas usia 18 bulan, dapat dilakukan tes antibodi HIV standar (tes darah cepat atau rapid test) untuk mendeteksi antibodi terhadap virus di dalam tubuh.
-
Bagi bayi di bawah usia 18 bulan, tes antibodi biasa kurang akurat karena masih membawa antibodi dari sang ibu. Oleh karena itu, digunakan Tes Virologis (seperti Nucleic Acid Test / NAT atau PCR HIV) untuk mendeteksi keberadaan material genetik virus secara langsung di dalam darah bayi.
-
Langkah Penanganan Dini
Jika anak menunjukkan tanda-tanda di atas atau memiliki faktor risiko tertular, orang tua diimbau untuk segera membawa sang buah hati ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit rujukan anak terdekat.
Apabila terbukti positif HIV, dokter spesialis anak akan meresepkan Terapi Antiretroviral (ARV) secara rutin.
Meskipun belum bisa menyembuhkan total, pengobatan ARV terbukti sangat efektif menekan jumlah virus di dalam darah, memulihkan sistem kekebalan tubuh, serta membuat anak dapat tumbuh, berkembang, dan menjalani kehidupan dengan sehat, aktif, dan normal seperti anak-anak lainnya.***
