KESATU.CO – BANDUNG, Terbukti bahwa Jabar memiliki beragam potensi ekonomi yang luar biasa. Satu di antaranya adalah sektor perbankan.
Faktanya, perbankan Jabar menorehkan performa dan kinerja gemilang. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jabar, satu sinyal menterengnya kinerja perbankan Jabar yakni tercermin pada penyaluran kreidtnya yang bernilai sultan.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jabar, Imansyah, menjelaskan,, di Tatar Pasundan, hingga triwulan perdana 2024, secara kumulatif, penyaluran kredit perbankan di Tatar Pasundan bernilai Rp598 triliun.
Angka itu, kata Imansyah, setara dengan 8,25 persen nilai total pembiayaan perbankan nasional.
“Pencapaian itu berkat adanya topangan 63 korporasi perbankan umum dan perbankan umum syariah,” ujar Imansyah di Kantor OJK Provinsi Jabar, Jalan Ir H Djuanda Bandung..
Imansyah melanjutkan, adanya aktivitas pembiayaan 252 BPR (Bank Perekonomian Rakyat)-BPRS pun menjadi penyokong masifnya penyaluran kredit perbankan di Jabar pada tiga bulan awal tahun ini.
Bahkan, tuturnya, penyaluran kredit perbankan di Bumi Parahyangan tersebut menjadi yang terbesar kedua setelah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.
Hebatnya lagi, sahut dia, mewahnya kredit perbankan itu diimbangi pergerakan positif rasio Non-Performing Loan (NPL).
Baca Juga: Soal BPR, OJK Punya Rencana: Bisa untuk Tukar Valuta Asing dan Tembus Pasar Modal
Pada akhir Maret 2024, ungkap Imansyah, perbankan di Jabar memiliki rasio NPL pada level 3,17 persen.
Tentang perkembangan perbankan syariah di Jabar, Imansyah menyampaikan, hingga Maret 2024, nilai pembiayaannya Rp67,1 triliun atau menggeliat 12,5 persen secara tahunan.
Imansyah menambahkan, pembiayaan perbankan syariah di Jabar hingga tiga bulan perdana 2024 itu berkontribusi 10,73 persen bagi total kredit perbankan di provinsi yang beribu kota Bandung tersebut.
Seperti halnya perbankan konvensional, beberapa Imansyah, rasio Non-Performing Finance (NPF ) pun berasa pada posisi yang positif, yakni 2,76 persen.
Khusus BPR-BPRS, Imansyah menyatakan, penyaluran kreditnya bertumbuh 8,52 persen secara tahunan atau menjadi Rp23,11 triliun. Nominal itu setara 3,70 persen pasar perbankan Jabar.
Sayangnya, aku Imansyah, rasio NPL dan NPF Gross BPR-BPRS di Jabar, belum sepositif perbankan umum dan perbankan umum syariah.
“Rasio NPL Gross BPR yakni 11,46 persen. Sedangkan rasio NPF BPRS, sebesar 7,18 persen,” sebut dia.
Bagaimana dengan perkembangan aset dan DPK, BPR-BPRS di Jabar?
Imansyah mengutarakan, perkembangannya moderat. Secara tahunan, sahut Imansyah, perkembangan aset dan DPK BPR-BPRS di Jabar masing-masing pada posisi 6,07 persen serta 5,94 persen.
Dalam hal Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dikelola perbankan di Jabar, Imansyah mengungkapkan, hingga triwulan I 2024, bergeliat 13,51 persen secara tahunan.
Geliat pengelolaan DPK perbankan di Jabar itu berkat peran aktif Krom Perbankan Umum dan tentunya PT Bank Pembangunan Daerah Jabar- Banten Tbk (Perseroda) alias bank bjb.
“Termasuk satu perbankan syairah yang merupakan anak usaha bbk bjb, yakni bank bjb syariah atau bjbs,” pungkas Imansyah. (win)***
