KESATU.CO – Di tengah geliat modernisasi industri kopi yang semakin dinamis, keberadaan Kopi Aroma di Kota Bandung justru menghadirkan narasi berbeda. Berdiri sejak 1930 di kawasan Jalan Banceuy, kedai kopi legendaris ini tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga merawat warisan rasa yang telah bertahan lintas generasi.
Bangunan yang dulunya dimiliki oleh warga Italia kini jadi pusat “perhatian” penikmat kopi di manapun.
Terletak di lokasi strategis tetap mengedepankan nilai-nilai kebaikan dari sang founder hingga diturunkan pada generasi ketiga hingga kini.
Pemilik Kopi Aroma, Widyapratama, menegaskan bahwa kekuatan utama produknya terletak pada proses pengolahan yang alami dan tanpa campuran bahan kimia. Ia menjelaskan bahwa seluruh tahapan, mulai dari pemilihan biji kopi mentah hingga proses sangrai, dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kualitas rasa dan manfaatnya.
Pak Wid demikian akrab dipanggil menceritakan bagaimana petuah mendiang ayahnya jadi prinsip berusaha hingga kini.
Tak perlu terlalu serakah karena hidup akan dimintai pertanggung jawaban kelak, dan selalu membantu sesama semampunya adalah hal hal mendasar yang menjadi pegangan kebaikan hidup hingga kini.
“Keunggulan kopi ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga dampaknya bagi tubuh. Konsumen merasakan manfaat seperti tidak menimbulkan gangguan pada pencernaan maupun efek tidak nyaman lainnya,” ujar Widyapratama menjelaskan manfaat kopi yang diproduksinya, Jumat (17/04/2026)
Ia juga mengungkapkan bahwa Kopi Aroma menghadirkan dua varian utama, yakni Arabika dan Robusta, yang diproses dengan metode penuaan khas. Arabika mengalami proses aging selama delapan tahun, menghasilkan cita rasa yang lebih halus dengan tingkat keasaman yang rendah.
Sementara Robusta melalui proses lima tahun, memberikan karakter rasa yang lebih kuat dengan kadar kafein yang telah menurun.
Menurut Widyapratama, pemilihan jenis kopi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. “Untuk kondisi tertentu seperti tekanan darah tinggi atau kesehatan jantung, Arabika lebih disarankan. Sementara bagi penderita diabetes, Robusta dapat menjadi pilihan yang lebih tepat,” katanya.
Ia juga menyarankan konsumsi kopi secara bijak, yakni dua cangkir di pagi hari dengan penggunaan gula yang minimal. Bahkan, jika konsumsi tanpa gula sama sekali itu adalah hal bagus karena bisa membantu penurunan gula darah di dalam tubuh.
Di sisi lain, generasi penerus Kopi Aroma turut menghadapi tantangan baru dalam menjaga relevansi usaha di era digital. Monica, putri Widyapratama, memandang bahwa mempertahankan kualitas produk merupakan tanggung jawab utama yang tidak bisa ditawar.
“Bagi kami, yang paling penting adalah memastikan kopi yang dihasilkan tetap sehat dan alami. Tidak menggunakan bahan tambahan kimia menjadi prinsip yang kami pegang setiap hari,” imbuhnya.
Baca Juga: OJK Soroti Dana Mengendap dan Kredit Mandek di Jabar
“Sebagai generasi milenial, saya sering tak sabaran melihat proses usaha yang ada di internal tetapi setelah terjun dan menjalankannya bersama papih, banyak pembelajaran nilai nilai baik di usaha ini,” jelasnya sumringah.
Tak tertinggal pula, relasi yang jadi sahabat ngopi pak Wid hingga kini yakni Mrs.Francis kelahiran Amerika yang sudah menjadi WNI ini menuturkan bahwa Kopi Aroma ini benar benar enak menemani waktu senggangnya.
“Sehari saya minum kopi bisa beberapa gelas dan dengan ditemani kepulan asap, hari hari saya begitu bersemangat,” pungkasnya menutup pembicaraan.
