Sukses Bikin Trilogi Dilan, Ini Yang Bikin Fajar Bustomi Kerap Menahan Tangis

KESATUCO. Film Milea: Suara dari Dilan yang disutradarai Fajar Bustomi resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia. Akhir dari trilogi Dilan ini menyudahi kisah percintaan Dilan dan Milea yang kasmaran dan penuh konflik. 

Diangkat dari novel best seller karangan Pidi Baiq, sebelumnya dua film telah diluncurkan, yakni Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019). Pada film ketiga, Fajar Bustomi mengaku proses produksi film ini cukup sulit.

Pasalnya, proses syuting film Milea: Suara dari Dilan dilakukan sekaligus dengan Dilan 2019. Beberapa adegan diambil langsung untuk menghemat waktu dan kondisi fisik setiap pemain.

“Ini pertama kali saya syuting satu periode langsung dua film. Masih agak mencari, waktu itu karena baru dilakukan,” katanya pada Gala Premiere Film Milea: Suara Dari Dilan, di Cihampelas Walk, Kamis (13/2/2020).

Kendati dilakukan sekaligus, Fajar mengaku saat itu dia dan tim, fokus pada pembuatan Dilan 1991. “Jadi misalnya ada adegan di rumah Milea dilakukan langsung untuk film Milea. Itu nggak mudah karena harus putar kepala filmnya,” ujarnya.

Ia bersyukur, periode waktu yang dibuat dari tiga buku ini sama. Sehingga cukup memudahkan Fajar dalam pengambilan adegan.

Menjadi film terakhir, Fajar menceritakan pengalamannya mendirect para pemain. Dia mengucapkan terimakasih kepada Pidi Baiq selaku penulis karena sudah mengizinkannya untuk membuat versi film.

Kedekatannya dengan film Milea membuat Fajar agak sedih. Pada gala premiere, beberapa kali ucapan Fajar agak terbata-bata menahan tangis. Begitu juga kedekatannya dengan para pemain yang sudah dianggap keluarga.

“Kondisi saya setiap selesai menonton film ini itu hati bergetar. Karena saya cukup dekat dengan film ini, setahun mengedit film dan memutar terus setiap adegannya. Kalau ingat pemain di lokasi itu suka sedih. Nggak terasa sudah tiga tahun dan ini jadi yang terakhir,” ucapnya.(sab/add)

Bagikan:
Left Menu Icon